<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Agung Prasetyo</title>
	<atom:link href="http://agungprasetyo.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://agungprasetyo.org</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 20 Apr 2012 04:19:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Tenis &#8216;Melambai&#8217;</title>
		<link>http://agungprasetyo.org/2012/04/20/tenis-melambai/</link>
		<comments>http://agungprasetyo.org/2012/04/20/tenis-melambai/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2012 04:19:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[olahraga]]></category>
		<category><![CDATA[tennis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agungprasetyo.org/?p=1857</guid>
		<description><![CDATA[Setelah satu set yang seru dalam latihan tenis rutin kantor, kami pun beristirahat sambil melepas pandangan ke lapangan lain. Terjadilah percakapan ini, &#8220;Eh itu cewek apa cowok yang main ya?&#8221; &#8220;Cowok lah, Bang. Keliatan dari posturnya, kok&#8221; &#8220;Tapi kok gayanya gitu ya&#8230;&#8221; &#8220;Iya ya, gemulai gitu&#8230;&#8221; &#8220;Jangan-jangan sekong* juga, nih, hehe&#8230;&#8221; &#8220;Tapi lumayan gerakan swingnya&#8221; &#8220;Tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah satu set yang seru dalam latihan tenis rutin kantor, kami pun beristirahat sambil melepas pandangan ke lapangan lain. Terjadilah percakapan ini,</p>
<blockquote><p>&#8220;Eh itu cewek apa cowok yang main ya?&#8221;<br />
&#8220;Cowok lah, Bang. Keliatan dari posturnya, kok&#8221;<br />
&#8220;Tapi kok gayanya gitu ya&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Iya ya, gemulai gitu&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Jangan-jangan sekong* juga, nih, hehe&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Tapi lumayan gerakan swingnya&#8221;<br />
&#8220;Tapi tetep aja sekong, hehe&#8230;Auw auw&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Haha, tapi lu juga belum tentu menang kalo lawan dia, Bang&#8221;<br />
&#8220;Hehehe&#8230;&#8221;<span id="more-1857"></span></p></blockquote>
<p>Semampai tubuhnya, gemulai gayanya. Sekilas pandang kami menyimpulkan bahwa lelaki ini gayanya memang agak kurang &#8216;lelaki&#8217;. Kami tak mendengar jelas suaranya saat memukul bola, tapi kami curiga suaranya pun feminin. <em>Auw, auw&#8230;</em></p>
<p>Pada sesi latihan yang lain, saya berpasangan dengan lelaki gemulai yang lain. Tubuhnya lebih atletis, bedanya pakai anting di kanan dan kiri.<em> Oww</em>, pertama kali melihatnya saya langsung paham. Pukulannya bagus dan kencang, lebih konsisten daripada saya, sehingga disimpulkan bahwa pukulannya tidak merepresentasikan penampilannya. Kemudian satu bola tepat dipukul mengarah ke tubuhnya, dan&#8230;&#8221;Auuwww!&#8221;</p>
<p>Setiap pemain jelas berhak punya gaya permainannya sendiri, termasuk caranya memukul dan berteriak. Bisa jadi kasusnya lelaki yang gayanya perempuan, dan sebaliknya. Selama masih ikut aturan permainan, <em>nothing&#8217;s wrong with that</em>. Yang jelas saya belum pernah tahu ada pemain tenis profesional putra dengan pembawaan seperti putri. Jelas bisa jadi sasaran <em>bully </em>yang empuk.</p>
<p>Pria-pria melambai rasanya makin bertambah dan ternyata tenis pun kebagian jatah. Bisa saja lelaki itu sudah belajar tenis sejak lama saat masih bergaya lelaki, lalu seiring waktu ia berubah pikiran untuk bergaya &#8216;perempuan&#8217;, namun tetap bermain tenis. Hasilnya, tenis &#8216;melambai&#8217;. Atau kemungkinan lain, saat sudah bergaya &#8216;perempuan&#8217;, baru belajar tenis. Hasilnya, &#8216;tenis melambai&#8217; juga. <em>Ah</em>, sama saja.</p>
<p>*sekong = senang b*kong</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agungprasetyo.org/2012/04/20/tenis-melambai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menghadapi Pemain Curang</title>
		<link>http://agungprasetyo.org/2012/04/18/menghadapi-pemain-curang/</link>
		<comments>http://agungprasetyo.org/2012/04/18/menghadapi-pemain-curang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Apr 2012 01:01:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[olahraga]]></category>
		<category><![CDATA[tennis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agungprasetyo.org/?p=1849</guid>
		<description><![CDATA[Saya bertemu dengan bapak ini pertama kali saat saya diajak bermain tenis oleh seorang kawan di Jakarta. Sekarang pun saya masih menyempatkan diri untuk bermain bersama klub kecil itu di akhir pekan jika saya tidak pulang ke Bandung. Lumayan, lapangannya tidak jauh dari kos, bisa menambah partner tanding, dan yang paling menarik: gratisan. Kawan saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya bertemu dengan bapak ini pertama kali saat saya diajak bermain tenis oleh seorang kawan di Jakarta. Sekarang pun saya masih menyempatkan diri untuk bermain bersama klub kecil itu di akhir pekan jika saya tidak pulang ke Bandung. Lumayan, lapangannya tidak jauh dari kos, bisa menambah partner tanding, dan yang paling menarik: gratisan.</p>
<p>Kawan saya mewanti-wanti dari awal: bapak ini suka curang. Pertama, curang menyatakan bola masuk itu keluar. Setiap kali saya bermain dengannya, jika curangnya kumat, bola-bola yang menyentuh garis seringkali ia bilang keluar. Demikian pula nasib bola-bola yang jatuh di lapangan dalam sekitar garis: sudah jelas masuk, dibilang keluar. Bahkan yang lebih parah, ada bola darinya yang jelas-jelas keluar, mau dipaksa masuk juga.<span id="more-1849"></span></p>
<p>Kedua, manipulasi skor. Saya tidak heran saat permainan berlangsung, skor kecil saya vs dia yang sebelumnya 30-15, lalu pukulannya keluar, skor yang dia bilang malah jadi 30-30. Lho, kan dia yang <em>out</em>, masa skor dia yang bertambah? Seharusnya kan jadi 40-15. Yang lebih gawat, manipulasi terhadap skor besar. Kami yang sudah mengumpulkan poin sehingga sampai pada kedudukan 7-5, eh dia bilang skor masih 6-5. Ampun, deh.</p>
<p>Ketiga, meminta service diulang karena tidak bisa mengembalikan bola. Yang ini baru sekali saya jumpai. Sebelum service, jelas saya memastikan bahwa penerima memang sudah siap. Itulah yang saya lakukan terhadap bapak ini. Dia sudah siap, oke saya mulai. Dan kemudian service saya masuk, tepat ke arah badannya. Dia tidak siap, lalu tidak bisa mengembalikan bola. Eh, tiba-tiba nggak ada angin nggak ada hujan, dia bilang &#8220;1!&#8221;. &#8220;1&#8243; yang disebutkan setelah service dilakukan berarti service tersebut keluar dari service court atau menyangkut di net. Lho, service saya kan masuk dengan enaknya dan tepat ke arah badannya, kenapa jadi &#8220;1&#8243;?? Saya masih ingat senyuman &#8216;curangnya&#8217; saat bilang &#8220;1&#8243;. Untung, kawan saya langsung tegas menyatakan service masuk dan poin dilanjutkan. Kalau nggak bisa jangan nyalahin orang, pak! Wkwkwk&#8230;</p>
<p>Lalu, apakah semua orang menerima diperlakukan curang seperti itu? Ada yang iya, ada yang tidak. Seorang pelatih yang dibayar bapak ini, seperti yang sudah kita duga bersama, tidak protes jika bolanya yang masuk dibilang keluar atau skornya diubah-ubah. Jelas saja, dia dibayar. Saat saya berpartner dengannya, saya diajak menerima kecurangan itu juga. Seolah memaklumi sambil menenangkan saya yang tidak terima, dia bilang &#8220;udah, udah, emang keluar&#8221;. Oh, no way, pak! Situ sih dibayar, jadi terima-terima saja, tapi saya kan orang merdeka. Jelas saya tidak mau diperlakukan curang. Saya sudah datang, berusaha bermain yang terbaik, dan susah payah mengumpulkan poin. Semua itu tidak mungkin berakhir di tangan orang curang. Walaupun ini cuma permainan, tapi junjung tinggilah sportivitas, kalau orang bilang &#8220;Fair Play&#8221;.</p>
<p>Ada tips melakukan protes tetapi tetap elegan. Tips ini sebenarnya ada di buku dasar-dasar bermain tenis. Pertama, harus tegas menyatakan bola masuk / keluar. Jika keluar, teriaklah &#8220;out&#8221; dengan jelas. Jika diam saja, maka bola dianggap masuk. Tidak mudah memang untuk menilai bola-bola yang menyentuh baseline atau sideline. Tapi intinya, selama tidak yakin keluar, yakinlah itu masuk. Defaultnya masuk, sampai dinyatakan keluar. Kedua, sebutlah skor dengan tegas sebelum permainan dilanjutkan. Jika bola masuk, sebutkan skor yang bertambah, demikian pula jika bola keluar. Harus jelas yang bertambah dan yang berkurang. Jika satu poin lupa disebut, biasanya kita ragu-ragu terhadap poin berikutnya. Keraguan ini yang seringkali dimanfaatkan si curang untuk menyelipkan poin bagi dirinya. Jadi, setiap kali bermain dengan bapak ini, saya melakukan kebiasaan yang jarang saya lakukan jika bermain di tempat lain. Yaitu, meneriakkan update skor di akhir setiap poin. Oh ya, di akhir SETIAP poin. Dan ya, sambil BERTERIAK, jika perlu DIULANG. Saya harus memastikan skor jujur yang dipegang, bukan skor curang, selain memastikan semua orang mendengar skor terakhir.</p>
<p>Tidak semua orang mau melakukan cara ini. Partner saya minggu lalu hanya menggerutu saat dicurangi. Entah karena tidak berani, atau karena merasa diajak, jadi main terima saja. Nothing to loose saja lah, toh kalau kita main bagus, klub kecil ini yang butuh kita, tidak sebaliknya. Wong yang main juga sedikit. Saya sampai dilobi untuk menambah waktu saya bermain di sana, karena memang minim peserta. Kawan saya bilang, awalnya lebih banyak dari yang sekarang. Tapi karena ada bapak ini yang bermain curang, jumlah pesertanya menyusut. Yaeyalah, siapa juga yang mau bermuamalah dengan orang curang? Yang tersisa hanya mereka yang mau protes dan tetap fair play. Dan di atas semua itu, mereka memang mencintai bermain tenis. Jadi, melawan orang curang tidak menyurutkan rasa cinta itu. Wuihhh&#8230;</p>
<p>Dalam perjalanan pulang, kami asyik membahas kecurangan yang bapak ini lakukan selama pertandingan. Maklum, si curang akhirnya kalah, jadi mungkin dia sudah sadar akan kalah, jadi mulai beraksi macam-macam. Tapi untungnya dia tidak memaksakan kecurangannya atau membahasnya di luar lapangan. Jika orang lain lebih tegas, manipulasinya bisa diredam. Tapi jika lawannya lemah, sori-sori jek, pasti dibodohinya bulat-bulat. Saya rasa dia paham sekali kalau dia berusaha curang, bukan karena lupa skor atau rabun penglihatan. Tapi mungkin karena sudah biasa, sikap bohong dianggap biasa-biasa saja. Ayolah pak, ini kan hanya sebuah permainan, mengapa repot-repot mencurangi diri sendiri?</p>
<p>Saat hampir sampai, kawan saya bercerita bahwa dia dahulu membatalkan niat bisnisnya dengan bapak ini. &#8220;Ya iyalah, curanggg!&#8221;, sergahnya saat saya menanyakan alasannya. Saya sudah menduga, bagaimana mungkin orang yang dengan skor permainan saja curang, bisa dipercaya dalam masalah duit. Dan kawan saya pun menutup kesimpulan si curang ini dalam sebuah pertanyaan retoris yang sungguh sulit saya jawab. &#8220;Pantesan dia kaya, pasti karena curang, iya kan ?&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agungprasetyo.org/2012/04/18/menghadapi-pemain-curang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antena Eksternal Modem ZTE AC2726 vs XL</title>
		<link>http://agungprasetyo.org/2011/10/07/antena-eksternal-modem-ac2726/</link>
		<comments>http://agungprasetyo.org/2011/10/07/antena-eksternal-modem-ac2726/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Oct 2011 16:40:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[antenna]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[cdma]]></category>
		<category><![CDATA[elektronik]]></category>
		<category><![CDATA[gsm]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[XL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agungprasetyo.org/?p=1819</guid>
		<description><![CDATA[Apa jadinya bila saat memasuki kamar kos sinyal HP mendadak turun drastis? Tidak hanya satu operator, tapi setidaknya 3 operator tidak berdaya menghadirkan kecepatan data 3G/HSDPA di ruangan ini. EDGE pun didapat dengan bersabar setelah mencoba berbagai posisi, itu pun ngos-ngosan. Lalu, apa akal? Pindah kos sempat terpikir, walau tentu repot. Lokasi yang sekarang sudah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa jadinya bila saat memasuki kamar kos sinyal HP mendadak turun drastis? Tidak hanya satu operator, tapi setidaknya 3 operator tidak berdaya menghadirkan kecepatan data 3G/HSDPA di ruangan ini. EDGE pun didapat dengan bersabar setelah mencoba berbagai posisi, itu pun ngos-ngosan. Lalu, apa akal?</p>
<p>Pindah kos sempat terpikir, walau tentu repot. Lokasi yang sekarang sudah relatif enak, plus harganya yang terjangkau dengan fasilitas yang ada. Ada sih, di sekitar Karet Kuningan, Jaksel ini yang menawarkan kos kumplit dengan internet dan TV kabel, hanya tentu harus merogoh kocek lebih dalam 2 hingga 3 kali lipat. No, thank you.<span id="more-1819"></span></p>
<p>Lalu suatu hari terpikir solusi lain. Saya ingat bahwa modem CDMA saya yang dibundling paket Smartfren (dulu Smart saja), ZTE AC2726, punya satu port kecil di samping bodinnya untuk colokan antena eksternal. Yup, antena eksternal ini berfungsi menguatkan sinyal sehingga sinyal yang dikirim dan diterima akan lebih kencang dibandingkan tanpanya. Tolong anak elektro kasih tahu ya kalau salah, sotoy nih <img src='http://agungprasetyo.org/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  Well, pantas dicoba nih sebagai solusi satu-satunya. Masa kalau mau dapat sinyal bagus mesti keluar kamar ke ruang tengah atau ke teras depan. Capek di jalan! (emang pake macet, bang!).</p>
<p style="text-align: center;">Tada!</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Antenna Ext ZTE 2726" src="http://www.iklanmanis.com/images/iklan/100802052457Ext-Antenna-Smart-ZTE-AC-2726.jpg" alt="" width="483" height="412" /></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Antenna EXT - 1" src="https://lh5.googleusercontent.com/-Wx734LMxzrg/To8gFf1oz0I/AAAAAAAAAig/g4uXl4n4m8Q/s400/2011-10-07%25252022.38.55.jpg" alt="" width="300" height="400" /></p>
<p style="text-align: center;">Karena keterbatasan ruang, antena disimpan di tempat yang tinggi di kamar. Sulit menyimpannya di luar yang mungkin akan mendapatkan tangkapan sinyal yang lebih baik.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Antenna EXT - 2" src="https://lh4.googleusercontent.com/-l7n5VTNOCBY/To8f6t_W42I/AAAAAAAAAiU/ty3732vOYU4/s400/2011-10-07%25252022.40.10.jpg" alt="" width="300" height="400" /></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Antenna EXT - 3" src="https://lh3.googleusercontent.com/-jDMQMJ2tCOM/To8f60nwE2I/AAAAAAAAAic/rZcTk1hCX2E/s400/2011-10-07%25252022.41.56.jpg" alt="" width="400" height="300" /></p>
<p style="text-align: center;">Hasilnya? Not bad, lah!</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Speedtest 1" src="https://lh4.googleusercontent.com/-CBh4NAnCmik/To8nKz5RxXI/AAAAAAAAAi0/pP5MPtWUIjY/s800/1522070023.png" alt="" width="300" height="135" /></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Speedtest 2" src="https://lh3.googleusercontent.com/-0DE0V3OIs-g/To8nKXUembI/AAAAAAAAAiw/44S-kMXXKpA/s800/1505002954.png" alt="" width="300" height="135" /></p>
<p style="text-align: left;">Hasilnya relatif sama dengan yang saya dapat di Bandung (Kircon/Soekarno-Hatta) di sekitar kantor Smartfren. Paket yang dipilih adalah di hasil tes pertama adalah paket true unlimited Premium (download s/d 384Kbps, upload s/d 128 Kbps). Yang kedua dengan paket volume based (download s/d 3,1 Mbps, upload s/d 1,8 Mbps). Kok sama, ya? Hehehe&#8230;kayanya hasil tes kedua belum hoki, harusnya bisa lebih nendang. Tapi segini cukup lah, kan bukan mau buka game online, hihihi..Oh ya, harga antena ini tidak sampai 200 ribu rupiah saja. Seharga modem baru, lah. Tapi apa artinya modem tanpa sinyal? <img src='http://agungprasetyo.org/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: left;">Kalau lihat di gambar [4], antena ini nampaknya bisa juga digunakan oleh modem GSM, tinggal disesuaikan adapter/pigtail-nya agar cocok dengan port antena eksternal modem GSM tersebut. Jadi, masalah terpecahkan untuk sementara waktu. Ini jauh lebih efisien daripada pindah kos. Sempat terpikir untuk mencoba antena wajan bolik yang dipopulerkan pak Onno tempo hari. Cuma sayang, saya bingung nanti mau simpang wajannya di mana. Di mana&#8230;di mana&#8230;di mana&#8230; *mendadak dangdut.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Update:</strong></p>
<p style="text-align: left;">Pagi setelah malam tulisan ini dibuat, alhamdulillah saya mendapatkan posisi bagus untuk mendapatkan sinyal 3G/HSDPA XL! Berikut hasilnya:</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Sppedtest XL - 1" src="https://lh4.googleusercontent.com/-79OcoNz02bM/To-coqXq2fI/AAAAAAAAAjI/aXpYd3uVJ-I/s800/1522786124.png" alt="" width="300" height="135" /></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Speedtest XL - 2" src="https://lh5.googleusercontent.com/-GYnUm1Qpu1c/To-cpFw5t_I/AAAAAAAAAjM/DVIuTi4cqUo/s800/1522784768.png" alt="" width="300" height="135" /></p>
<p style="text-align: left;">Sekilas perbandingannya bahwa kecepatan download XL lebih baik hampir 2 kali Smart, dan upload Smart lebih cepat sampai lebih dari 2 kali XL. Jadi, pilih mana? Well, kalau XL bisa konstan dapat segitu, ya lebih baik pakai XL saja, karena kan mayoritas penggunaan internet melibatkan kecepatan download, bukan upload. Nah, saya pun bisa lebih hemat karena toh pulsa XL sudah disubsidi alias gratis (ada limitnya, lho!), tinggal registrasi paket internet unlimited bulanan. Pilihan paketnya sesuai di <a href="http://www.xl.co.id/language/id-id/internet/unlimited/bulanan">sini</a>:</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Paket Internet Unlimited XL" src="https://lh4.googleusercontent.com/-pX3cw0TSA6U/To-f-wYV3-I/AAAAAAAAAjg/gdz-ZdgNXBA/s800/Screen%252520shot%2525202011-10-08%252520at%2525207.55.13%252520AM.png" alt="" width="404" height="367" /></p>
<p style="text-align: left;">Bagi yang menggunakan paket ini dengan ponsel Samsung Android,  kabar baiknya adalah bisa bebas Data Roaming kalau main ke negara-negara Asia lainnya dan terkoneksi dengan operator-operator dalam grup Axiata. Sekian iklannya.</p>
<p style="text-align: left;">Kalau begini saya bisa langganan satu paket internet unlimited bulanan XL yang bisa digunakan untuk mobile (Android) sekaligus modem kalau sedang di kos. Lebih hebat lagi kalau saya bisa gunakan antena eksternal penguat sinyal itu untuk menguatkan sinyal XL. Tapi sayang, di ponsel nggak ada port eksternal untuk antena. Well, no problemo, yang penting kebutuhan dasar sudah terpenuhi secara ekonomis. Sekian.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Update</strong>:</p>
<p style="text-align: left;">Sinyal XL di sini ternyata tidak stabil sekitar jam9-11 malam. Alih-alih dapat 3G/HSDPA, yang didapat &#8216;cuma&#8217; EDGE. Setelah dipikir, akhirnya diputuskan untuk kembali menggunakan Smart dengan paket langganan volumen 2GB/bulan dengan biaya langganan cukup Rp. 50.000 saja.</p>
<p style="text-align: left;"><img class="aligncenter" title="Smart Volume 2GB" src="https://lh6.googleusercontent.com/-_L3u63EssXw/TpXuw-CVWoI/AAAAAAAAAko/h3fuRJ2UovI/s640/Screen%252520shot%2525202011-10-13%252520at%2525202.40.53%252520AM.png" alt="" width="640" height="86" /></p>
<p style="text-align: left;">Belum cukup? Setiap pengisian pulsa Rp. 50.000 Smart memberikan bonus internet volume 500MB dengan kecepatan download up to 3,1 Mbps. Jadi total jendral 2,5GB/bulan. Lumayan, kan? Kecepatan?</p>
<p style="text-align: left;"><img class="aligncenter" title="Speedtest vol2000 1" src="https://lh4.googleusercontent.com/-h79iyqnUqhM/TpXuz6WHauI/AAAAAAAAAkw/T5m66DsaUg4/s800/1531219174.png" alt="" width="300" height="135" /></p>
<p style="text-align: left;"><img class="aligncenter" title="Speedtest vol2000 2" src="https://lh3.googleusercontent.com/-keptcsIublc/TpXuz1iiMtI/AAAAAAAAAk0/O_slmGF-HUI/s800/1531216899.png" alt="" width="300" height="135" /></p>
<p style="text-align: left;">Bungkus!</p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: left;">Gambar: [<a href="http://www.iklanmanis.com/images/iklan/100802052457Ext-Antenna-Smart-ZTE-AC-2726.jpg">1</a>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agungprasetyo.org/2011/10/07/antena-eksternal-modem-ac2726/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips biar nasi nggak kering</title>
		<link>http://agungprasetyo.org/2011/10/07/today-07102011/</link>
		<comments>http://agungprasetyo.org/2011/10/07/today-07102011/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Oct 2011 06:04:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[memasak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agungprasetyo.org/?p=1807</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini baru nyadar cara untuk meminimalisasi nasi kering di rice cooker. Dahsyat banget ini tips! Siap-siap ya! Jarak waktu antara makan siang dan makan malam kan lumayan bikin (sebagian) nasi kering dan gak bisa kemakan di rice cooker. Ya, emang karena untuk dimakan sendiri, sekali masak nasi cukup untuk dua kali waktu makan ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Nasi in Black Bowl" src="http://4.bp.blogspot.com/_6WPi1FIGkUs/TKRU_AU0kRI/AAAAAAAAAjU/AJr0-O-jxjM/s1600/nasi.jpg" alt="" width="295" height="350" /></p>
<p style="text-align: left;">Hari ini baru nyadar cara untuk meminimalisasi nasi kering di rice cooker. Dahsyat banget ini tips! Siap-siap ya!</p>
<p style="text-align: left;">Jarak waktu antara makan siang dan makan malam kan lumayan bikin (sebagian) nasi kering dan gak bisa kemakan di rice cooker. Ya, emang karena untuk dimakan sendiri, sekali masak nasi cukup untuk dua kali waktu makan ini saja. Cara paling naif yaitu menambah proporsi air terhadap nasi. Semakin banyak air membuat nasi akan semakin lama mengalami kekeringan, bukan? Soalnya dibutuhkan waktu lebih lama untuk menguapkan lebih banyak volume air pada nasi. Konsekuensinya, nasi jadi berair alias lembek. Gak jadi bubur sih, cuma yaaa basah aja. Nggak enak, coy!<span id="more-1807"></span></p>
<p style="text-align: left;">Cara lain yang lebih cerdas adalah saat nasi matang, gunakan sendok nasi untuk &#8216;mengangkat&#8217; nasi dari dasar dan samping rice cooker. Ya betul, hal ini untuk mengurangi luas permukaan nasi yang &#8216;menempel&#8217; pada rice cooker. Karena kalau kita perhatikan, nasi yang biasanya cepat kering bukan lah nasi yang berada di tengah, melainkan di pinggir dan di bagian bawah, yang tepat bersentuhan dengan dinding-dinding rice cooker. Dengan &#8216;memisahkan&#8217; nasi, nasi tidak akan lengket sekaligus membuat daya tahan dari kekeringan semakin lama. Yah, sedikit lebih lama. Sedikiiiit aja. Setidaknya sampai waktu makan berikutnya yang menghabiskan seluruh nasi yang bersisa. Makanan jangan dibuang-buang, yaaa&#8230;</p>
<p style="text-align: left;">Sekian tips praktis nggak penting soal menanak nasi akibat rasa bersalah kalau banyak nasi kering yang tak termakan. Apapun yang terjadi, kita tetap negara pemakan nasi tertinggi di dunia dengan konsumsi rata-rata 139kg/orang/tahun. Hidup nasi!</p>
<p style="text-align: left;">Gambar: [<a href="http://4.bp.blogspot.com/_6WPi1FIGkUs/TKRU_AU0kRI/AAAAAAAAAjU/AJr0-O-jxjM/s1600/nasi.jpg">1</a>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agungprasetyo.org/2011/10/07/today-07102011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Random Pictures Today</title>
		<link>http://agungprasetyo.org/2011/10/06/random-pictures-today/</link>
		<comments>http://agungprasetyo.org/2011/10/06/random-pictures-today/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Oct 2011 02:38:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Galeri]]></category>
		<category><![CDATA[apple]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[sketch]]></category>
		<category><![CDATA[XL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agungprasetyo.org/?p=1788</guid>
		<description><![CDATA[Honestly, i have plenty of ideas to write here. But due to my lack of discipline in posting them regularly, now all these ideas stuck in my drafts and in my head, of course. So while i&#8217;m trying to get my conscious back, let me show you several random pictures i&#8217;ve taken during September to [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Honestly, i have plenty of ideas to write here. But due to my lack of discipline in posting them regularly, now all these ideas stuck in my drafts and in my head, of course. So while i&#8217;m trying to get my conscious back, let me show you several random pictures i&#8217;ve taken during September to early October. No Instagram added. Just pictures with stories behind.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Grha XL in Sketch" src="https://lh5.googleusercontent.com/-6H0cRtjuXvA/To0KDoKddnI/AAAAAAAAAhY/0G4J_QAihLI/s640/2011-09-12%25252007.44.11-1.jpg" alt="" width="640" height="456" />I sketched this early in the morning from a shopping centre across the building.<span id="more-1788"></span></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Grha XL and China Embassy" src="https://lh6.googleusercontent.com/-GyH8GUyUgoM/To0LRmn235I/AAAAAAAAAh0/txKzpReiOzg/s640/2011-09-12%25252007.50.54.jpg" alt="" width="640" height="480" />I admire the design of China Embassy&#8217;s rooftop. So&#8230;Chinese.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Book: Untuk Indonesia yang Kuat" src="https://lh4.googleusercontent.com/-3ll_TPCm1jU/To0KRIma6QI/AAAAAAAAAho/T3Ir5WqnONY/s640/2011-10-06%25252008.42.01.jpg" alt="" width="480" height="640" />I got this book for free as a gift from <a href="http://twitter.com/#!/mrshananto">Mrs. Ligwina Hananto</a> on Financial Talkshow at<a href="http://socmedfest.com/"> Social Media Festival</a>. Beware, it&#8217;s provocative! I couldn&#8217;t find the photo shoot when i (and two others) received this book next to the stage from @socmedfest&#8217;s site gallery, so i can&#8217;t post it here. Well, it&#8217;s up to you to believe it or not <img src='http://agungprasetyo.org/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Steve Jobs (1955-2011)" src="https://lh5.googleusercontent.com/-rY1i-dUs1WM/To0KLGrnpRI/AAAAAAAAAhc/5giFnOYpxgg/s640/Screen%252520shot%2525202011-10-06%252520at%2525208.49.52%252520AM.png" alt="" width="640" height="431" />Last but not least, it is an honor to live in the time of Steve Jobs (1955-2011) who passed away early in the morning today. I admired his passion to change the world through business and technology innovation in this century. Not to mention his taste of perfection that gave birth to beautiful Apple products. So many stories about this man. You&#8217;ll be remembered, Mr. Jobs. Stay Hungry, Stay Foolish.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agungprasetyo.org/2011/10/06/random-pictures-today/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nomor-Dua</title>
		<link>http://agungprasetyo.org/2011/09/15/nomor-dua/</link>
		<comments>http://agungprasetyo.org/2011/09/15/nomor-dua/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Sep 2011 03:47:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[karir]]></category>
		<category><![CDATA[telco]]></category>
		<category><![CDATA[XL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agungprasetyo.org/?p=1775</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Kenapa nggak ngelamar di nomor-satu aja?&#8221; &#8220;Oh, karena berada di nomor-dua itu jadi semangat mengejar nomor-satu. Kalau udah nomor-satu, mau mengejar siapa lagi? Hehehe&#8230;&#8221; Aha! Jawaban langsung kuutarakan karena pertanyaan itu sudah kuantisipasi sebelumnya. Hanya tidak kusangka akan ditanyakan di halal bi halal keluarga besarku. Yang bertanya adalah seorang ibu muda yang sudah bekerja di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>&#8220;Kenapa nggak ngelamar di nomor-satu aja?&#8221;<br />
&#8220;Oh, karena berada di nomor-dua itu jadi semangat mengejar nomor-satu. Kalau udah nomor-satu, mau mengejar siapa lagi? Hehehe&#8230;&#8221;</p></blockquote>
<p><a href="http://agungprasetyo.org/wp-content/uploads/2011/09/iklan-iklan-penuh-hikmah-dibulan-puasa2-iklan-iklan-penuh-hikmah-dibulan-puasa-3-xl-pengemis-minta-sedekah2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1781" title="iklan-iklan-penuh-hikmah-dibulan-puasa2-iklan-iklan-penuh-hikmah-dibulan-puasa-3-xl-pengemis-minta-sedekah2" src="http://agungprasetyo.org/wp-content/uploads/2011/09/iklan-iklan-penuh-hikmah-dibulan-puasa2-iklan-iklan-penuh-hikmah-dibulan-puasa-3-xl-pengemis-minta-sedekah2-300x189.jpg" alt="" width="300" height="189" /></a>Aha! Jawaban langsung kuutarakan karena pertanyaan itu sudah kuantisipasi sebelumnya. Hanya tidak kusangka akan ditanyakan di halal bi halal keluarga besarku. Yang bertanya adalah seorang ibu muda yang sudah bekerja di nomor-satu selama 4 tahun. Bekerja di urusan marketing, wajar ia bertanya seperti itu. Ujung-ujungnya bisa kutebak: salary / reward yang diberikan nomor-satu hampir pasti lebih besar daripada nomor-dua.<span id="more-1775"></span></p>
<p>Alasan klasik saat dahulu kala saya tidak melamar ke nomor-satu berkaitan dengan treshold / batas. Batas IPK, maksudnya, hahaha… Secara alami orang tentu tertarik bekerja di perusahaan swasta pelat merah yang menjadi market leader. Walaupun alasan karir tetap ada, tidak bisa dipungkiri hitung-hitungan reward membuat tekad lebih bulat, terutama bagi fresh graduates.</p>
<p>Bekerja di nomor-satu bukan tanpa risiko. Beberapa yang pernah saya dengar berkaitan dengan promosi, gaya kerja, dan kenyamanan. Pertimbangan politis untuk mempromosikan orang lebih terasa di nomor-satu daripada nomor-dua. Wajar karena sahamnya milik negara. Negara = politis, bukan? Seorang kawan yang bekerja 4-5 tahun di nomor-satu mengakuinya. Bahasa diplomatisnya, &#8220;Tidak selalu orang yang dipromosikan itu karena pertimbangan keahliannya&#8221;. Saya rasa ia pernah kalah saingan untuk dipromosikan akibat kandidat lain yang lebih &#8220;tidak ahli&#8221; menang secara politis dibanding dirinya.</p>
<p>Yang kedua, gaya kerja nomor-satu yang duitnya kencang membuat pendekatan kerjanya lebih condong memiliih vendor sebagai solusi. Kebanyakan vendor, kata kawan saya yang lain. Vendor di sini berarti membayar partner bisnis untuk memberi solusi atas kebutuhan bisnis perusahaan. &#8220;Kami di sini tidak menggantungkan sepenuhnya pada vendor. Kami juga belajar agar kami juga bisa menghandle problem tersebut&#8221;, kata pewawancara saya di nomor-dua setengah berpromosi. Ia membandingkan dengan perusahaan sejenis yang &#8216;berbeda gaya&#8217; dalam berhubungan dengan vendor. Saya rasa ya perusahaan nomor-satu itu.</p>
<p>Yang ketiga adalah kenyamanan yang ditawarkan membuat karyawan &#8220;lembam&#8221; (kembali meminjam istilah kawan). Sudah jamak kalau bekerja di perusahaan yang ada plat merahnya bahwa begitu kita sudah masuk, selama tidak melakukan pelanggaran berarti, maka kita akan baik-baik saja. Jauh dari lay-off. Apalagi semakin lama kita bekerja kan berarti pundi-pundi uang pun semakin bertambah. Maka semakin nyaman lah kita di dalamnya. Perkara apakah tantangan pekerjaan semakin meningkat atau karir semakin bersinar mungkin bukan urusan nomor satu.</p>
<p>Ah, saya memang sok tahu, Baru tahu sedikit dari obrolan orang-orang yang saya temui, saya sudah berani-berani membuat kesimpulan gambaran besarnya. Jangan-jangan saya disangka orang buta yang hanya memegang ekor kuda tapi sudah merasa bisa mendefinisikan kuda. Kita lihat saja dalam perjalanan waktu benar tidaknya opini ini. Yang jelas, suami ibu muda tadi, sempat menanyakan kepada saya jika ada lowongan untuk dirinya yang kini sedang bekerja di bank swasta asing. Kabarnya dia mendengar bahwa salary di nomor-dua lumayan walau tidak sebesar 24 kali gaji per tahun yang diterima istrinya. Well, salary again. Yah, setidaknya nomor-dua pun dilirik karena reward yang diberikannya. Lagipula ini kan bukan kecap, jadi nggak harus nomor satu <img src='http://agungprasetyo.org/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Bagi saya, sampai saat ini reward bukan yang utama, melainkan adanya kesempatan kita untuk mengaktualisasikan diri di lingkungan kerja yang mendukung untuk pertumbuhan diri dan karir kita. Dan jangan lupa, seperti judul buku Rene Suhardono, &#8220;Your Job is Not Your Career!&#8221; <img src='http://agungprasetyo.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agungprasetyo.org/2011/09/15/nomor-dua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pak, Saya Lulus!</title>
		<link>http://agungprasetyo.org/2011/09/14/pak-saya-lulus/</link>
		<comments>http://agungprasetyo.org/2011/09/14/pak-saya-lulus/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Sep 2011 16:52:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung]]></category>
		<category><![CDATA[dosen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agungprasetyo.org/2011/09/14/pak-saya-lulus/</guid>
		<description><![CDATA[Andri: Iya, sya harus berterima ksih seperti apa untuk membalas apa yg telah bpk ajarkan kpda sya. Amin pak. Sebut saja Andri, satu-satunya mahasiswa bimbingan saya saat saya masih di Poltek Telkom, hari ini berhasil menyelesaikan sidangnya dan dinyatakan lulus! Senang rasanya bisa membantu orang lain mencapai salah satu milestone hidupnya. Saya merasa hidup saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Andri: Iya, sya harus berterima ksih seperti apa untuk membalas apa yg telah bpk ajarkan kpda sya. Amin pak. 
</p>
</blockquote>
<p>
Sebut saja Andri, satu-satunya mahasiswa bimbingan saya saat saya masih di Poltek Telkom, hari ini berhasil menyelesaikan sidangnya dan dinyatakan lulus! Senang rasanya bisa membantu orang lain mencapai salah satu milestone hidupnya. Saya merasa hidup saya tambah berarti. Dirasakan manfaatnya oleh orang lain. Alhamdulillah. Profesi pengajar memang layaknya telaga amal jariyah untuk bekal kelak. Ganjaran perasaan lega di dunia dan lebih lagi di akhirat, insyaAllah. </p>
<blockquote><p>Saya: Hehe nyantai aja gak usah Andri, udah tngg jawab saya sebisa saya. Kamu dah lulus sy udah seneng kok. Semoga ilmunya kepake buat hidup <img src='http://agungprasetyo.org/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /> 
</p>
</blockquote>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agungprasetyo.org/2011/09/14/pak-saya-lulus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SMUN 3 Bdg in Panorama</title>
		<link>http://agungprasetyo.org/2011/08/05/smun-3-bdg-in-panorama/</link>
		<comments>http://agungprasetyo.org/2011/08/05/smun-3-bdg-in-panorama/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Aug 2011 23:50:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Galeri]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung]]></category>
		<category><![CDATA[smun3bdg]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agungprasetyo.org/?p=1770</guid>
		<description><![CDATA[Menurut akun twitter @wargatiga, 2 Agustus lalu adalah hari jadi SMU tercinta saat SMA A,B,C digabung menjadi SMU 3. CMIIW. Berikut sosok beberapa sudut sekolah dengan moto &#8220;Knowledge is Power but Character is More&#8221; ini tertanggal 2 Agustus 2011. Album lengkap di sini. #imissthosegoodolddays]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="display:block;margin-right:auto;margin-left:auto;" alt="image" src="http://agungprasetyo.org/wp-content/uploads/2011/08/wpid-2011-08-02-17.04.57.jpg" /></p>
<p>Menurut akun twitter @wargatiga, 2 Agustus lalu adalah hari jadi SMU tercinta saat SMA A,B,C digabung menjadi SMU 3. CMIIW.</p>
<p>Berikut sosok beberapa sudut sekolah dengan moto &#8220;Knowledge is Power but Character is More&#8221; ini tertanggal 2 Agustus 2011. Album lengkap di <a href="http://https://picasaweb.google.com/agungpras/SMUN3BDGInPanorama">sini.</a></p>
<p>#imissthosegoodolddays</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agungprasetyo.org/2011/08/05/smun-3-bdg-in-panorama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konsentrasi 50 Menit</title>
		<link>http://agungprasetyo.org/2011/07/11/konsentrasi-50-menit/</link>
		<comments>http://agungprasetyo.org/2011/07/11/konsentrasi-50-menit/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jul 2011 04:58:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[curhat]]></category>
		<category><![CDATA[kuliah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agungprasetyo.org/?p=1763</guid>
		<description><![CDATA[Pada sebuah referensi saya pernah membaca bahwa latar belakang waktu perkuliahan yang 1 jam = 50 menit itu adalah berdasarkan hasil riset yang menyatakan bahwa kemampuan otak untuk tetap berkonsentrasi di kelas sebelum membutuhkan waktu istirahat adalah 50 menit. Lama waktu ini tentu hasil rata-rata, itu pun mungkin untuk mahasiswa dengan tingkat intelektual tertentu, dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://www.cartoonstock.com/lowres/epa1436l.jpg" alt="Konsentrasi" /></p>
<p>Pada sebuah referensi saya pernah membaca bahwa latar belakang waktu perkuliahan yang 1 jam = 50 menit itu adalah berdasarkan hasil riset yang menyatakan bahwa kemampuan otak untuk tetap berkonsentrasi di kelas sebelum membutuhkan waktu istirahat adalah 50 menit. Lama waktu ini tentu hasil rata-rata, itu pun mungkin untuk mahasiswa dengan tingkat intelektual tertentu, dalam waktu tertentu (misal, pagi lebih optimal untuk belajar dibandingkan setelah makan siang), sampai seberapa menarik dosen menyajikan kuliahnya. Singkatnya, katakan saja dalam keadaan normal, mahasiswa (dan dosen) di kelas dalam satu jam sesi perkuliahan setidaknya harus berkonsentrasi pada kuliah selama 50 menit tersebut. Setelah lebih dari 50 menit, dibutuhkan jeda istirahat 5-10 menit untuk menyegarkan otak agar siap kembali.<span id="more-1763"></span></p>
<p>Ok, itu dalam keadaan normal. Bagaimana jika abnormal? Bagaimana jika ternyata sampel mahasiswa yang diuji dengan ketahanan 50 menit itu bukan mahasiswa dari kelas saya? Bagaimana jika ada mahasiswa-mahasiswa yang mengikuti kuliah hanya mampu bertahan untuk tetap fokus dalam waktu 10 menit saja?</p>
<blockquote><p>Sepuluh menit fokus, 10 menit ngobrol.<br />
Sepuluh menit memperhatikan dosen, 10 menit memperhatikan laptop (baca: facebook).<br />
Sepuluh menit melihat papan tulis, 10 menit melihat meja (baca: tidur)<br />
…</p></blockquote>
<p>Tidak semua mahasiswa kuat untuk diajak &#8216;berlari&#8217;. Tidak semua tahan untuk menanggung 50 menit itu. Alhasil, bak dirigen orkestra yang memainkan komposisi-komposisi lagu, dosen harus merasakan saat-saat yang tepat untuk memainkan tempo yang rapat, atau nada-nada tinggi yang menyundul-nyundul kesadaran. Jika perlu, sisipkan tanda diam tiga perempat atau penuh untuk menyisipkan pertanyaan yang menggelitik, menunggu pikiran-pikiran berkecamuk dalam hening. Tanya. Jawab. Aksi. Reaksi. Pancing. Respon.</p>
<p>Jumlah mereka yang kuat bertahan 50 menit termasuk minoritas. Selebihnya mereka harus introspeksi diri. Entah karena malamnya kurang tidur, karena sedang ada masalah, karena kurang gizi (<em>eh, bisa lho!</em>), karena tidak terbiasa belajar, karena lebih senang main, karena kurang motivasi, karena lebih suka belajar sambil bergerak, dan karena-karena yang lain. Salahkah mereka?</p>
<p>Atau sebenarnya saya yang harus mengaca. Jangan-jangan sajian kuliah saya tidak nikmat. Cukup hambar untuk hanya dirasakan setiap 10 menit saja. Kalau begitu apa boleh buat, saya harus lebih banyak berlatih meracik masakan kuliah. Kalau perlu ikut M@ster Chef. <em>Halah</em>.</p>
<p>Entah siapa yang salah. Mungkin dua-duanya salah. Perlu penelitian untuk menemukan penyebabnya. Dan lagi-lagi, penelitian kegiatan pengajaran yang melibatkan manusia tidak bisa cepat. Sayangnya, lagi-lagi (merasa) tidak ada waktu untuk hal-hal demikian. Kuliah harus disampaikan, tugas harus diberikan, dan ujian harus diselesaikan. Sadarnya tahu-tahu sudah akhir semester. <em>Weleh-weleh</em>.</p>
<p>Berikut saya lampirkan tips mengatasi masalah konsentrasi belajar dari <a href="http://hubpages.com/hub/study_skills_improve_your_concentration">sini</a>:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://s4.hubimg.com/u/1016639_f496.jpg" alt="Do well" width="397" height="298" /></p>
<ol>
<li>Select a place you like to study and where there are few distractions</li>
<li>Plan your study time so that you will have enough time to finish your work.</li>
<li>Make sure that you have all the materials and resources you need to finish the assignment.</li>
<li>Develop a positive mental attitude to the task ahead. Think about finishing your work and try to do well.</li>
<li>Remember your purpose for studying and make this your goal. Question yourself about what you are studying and then read actively for the answers.</li>
<li>Work in short sessions of forty to fifty minutes and take regular breaks to avoid getting tired.</li>
<li>Make notes and summaries of the main points you are studying and refer to them to check your progress</li>
<li>Break your work into smaller units of study and mark each unit off as you complete it.</li>
</ol>
</blockquote>
<p>&#8212;<br />
Gambar: [<a href="http://www.cartoonstock.com/lowres/epa1436l.jpg">1</a>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agungprasetyo.org/2011/07/11/konsentrasi-50-menit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencari Raket dan Senar Tenis yang Pas (3)</title>
		<link>http://agungprasetyo.org/2011/06/27/mencari-raket-dan-senar-tenis-yang-pas-3/</link>
		<comments>http://agungprasetyo.org/2011/06/27/mencari-raket-dan-senar-tenis-yang-pas-3/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Jun 2011 06:27:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[Babolat]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[olahraga]]></category>
		<category><![CDATA[Prince]]></category>
		<category><![CDATA[tennis]]></category>
		<category><![CDATA[Toalson]]></category>
		<category><![CDATA[Wilson]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agungprasetyo.org/?p=1743</guid>
		<description><![CDATA[(Tulisan sebelumnya&#8230;) Ebox Nano V88 &#38; Senar Ebox, Toalson Thermaxe 123, Toalson Thermaxe 18 Spin Raket berikutnya, Ebox Nano V88 ini akan selalu terkenang sebagai raket yang mengajari saya cara menghasilkan pukulan-pukulan spin. Dengan beratnya yang 270 gram dengan sekian poin head light, mudah sekali menghasilkan pukulan-pukulan topspin. Ternyata eh ternyata merk Ebox ini adalah merk official yang digunakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">(<a href="http://agungprasetyo.org/2011/06/27/mencari-raket-dan-senar-tenis-yang-pas-2/">Tulisan sebelumnya&#8230;</a>)</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Ebox Nano V88 &amp; Senar Ebox, Toalson Thermaxe 123, Toalson Thermaxe 18 Spin</strong></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Ebox Nano V88" src="https://lh4.googleusercontent.com/-kIYwkXnbuaw/TdxT2xSkmtI/AAAAAAAAAek/a8pIDDeXPH4/s400/DSCN1159.JPG" alt="" width="400" height="300" /></p>
<p style="text-align: left;">Raket berikutnya, Ebox Nano V88 ini akan selalu terkenang sebagai raket yang mengajari saya cara menghasilkan pukulan-pukulan <em>spin</em>. Dengan beratnya yang 270 gram dengan sekian poin <em>head light</em>, mudah sekali menghasilkan pukulan-pukulan <em>topspin</em>. Ternyata eh ternyata merk Ebox ini adalah merk <em>official</em> yang digunakan Pelti. Jadi, walaupun saya tidak menemukan situsnya di internet untuk mengecek keaslian tipe-tipenya, cap Pelti sudah cukup meyakinkan saya bahwa merk ini juga tidak kalah kualitasnya. Apalagi Ebox terkenal banyak bonusnya. Beli raket langsung dapat senar dan tas tenis. Dahulu teman saya cerita bahkan sampai dapat sepatu, <em>hehehe&#8230;<span id="more-1743"></span><br />
</em></p>
<p style="text-align: left;">Cukup lama pula Ebox ini menemani saya, hingga saya menemukan &#8216;kelemahannya&#8217;. Akibat bobot dan konstruksinya yang ringan, raket ini mengorbankan kestabilan. Beberapa kali raket berputar saat menghadapi bola-bola kencang, sehingga saat seharusnya saya dapat menghasilkan <em>dropshot</em>, eh justru bolanya jatuh di lapangan saya sendiri. Selain kestabilan, power nya pun saya rasa kurang. Saya harus mengeluarkan tenaga lebih untuk mengembalikan pukulan, apalagi untuk pukulan backhand. Lama-lama capek juga.</p>
<p style="text-align: left;">Senar pertama adalah senar gratisan dari Ebox. Senarnya standar, cocok di awal, lalu lama-lama kehilangan tegangan dan mulai mudah belok-belok setelah digunakan untuk memukul.</p>
<p style="text-align: left;">Senar kedua adalah Toalson Thermaxe 123. Senar ini berbahan polyester, yakni bahan yang terkenal lama putus, kaku, dan kurang elastis. Senar tipe ini banyak digunakan pemain profesional. Lagi-lagi, saya gelap mata mengikuti standar mereka. Senar yang seharusnya ditarik sebesar 51-52 lbs saja saya pasang di 55 lbs. Akibatnya raket Ebox ini terasa seperti papan! Keras bukan main. Untuk memukul forehand saya harus mengerahkan seluruh tenaga. Sampai loncat-loncat. Itupun kemudian terasa agak sakit di tangan karena &#8216;keras&#8217; rasanya. Senar ini memecahkan rekor karena hanya bertahan sehari, <em>hehehe&#8230;</em></p>
<p style="text-align: left;">Senar terakhir yang masih terpasang adalah Toalson Thermaxe 18 spin dengan tarikan 55 lbs. Entah bagaimana rasanya, karena belum pernah saya coba. Raket ini masih saya simpan sebagai cadangan.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Wilson nTour Two nCode &amp; Senar Toalson Cyberspin 135, Toalson Ultrasoft, PSGD 17</strong></p>
<p><img class="alignleft" title="Wilson nTour Two nCode" src="http://img.tennis-warehouse.com/new_big/WNT2-1.jpg" alt="" width="245" height="420" /></p>
<blockquote>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="2" width="150">
<tbody>
<tr>
<td><span style="font-size: x-small;">nTour Two 95 Specs</span></td>
</tr>
<tr>
<td><span style="font-size: xx-small;"><strong>Head Size:</strong><br />
95 sq. in. / 613 sq. cm.</span></td>
</tr>
<tr>
<td><span style="font-size: xx-small;"><strong>Length:</strong> 27.25 inches / 69 cm</span></td>
</tr>
<tr>
<td><span style="font-size: xx-small;"><strong>Strung Weight:</strong> 10.6oz / 301g</span></td>
</tr>
<tr>
<td><span style="font-size: xx-small;"><strong>Balance:</strong> 1pts Head Light</span></td>
</tr>
<tr>
<td><span style="font-size: xx-small;"><strong>Swingweight:</strong> 320</span></td>
</tr>
<tr>
<td><span style="font-size: xx-small;"><strong>Stiffness:</strong> 62</span></td>
</tr>
<tr>
<td><span style="font-size: xx-small;"><strong>Beam Width:</strong> 22 mm Straight Beam</span></td>
</tr>
<tr>
<td><span style="font-size: xx-small;"><strong>Composition:</strong> 25% nCoded Hyper Carbon / 75% nCoded Graphite</span></td>
</tr>
<tr>
<td><span style="font-size: xx-small;"><strong>Power Level:</strong> Low-Medium</span></td>
</tr>
<tr>
<td><span style="font-size: xx-small;"><strong>Swing Speed:</strong> Fast</span></td>
</tr>
<tr>
<td><span style="font-size: xx-small;"><strong>Grip Type:</strong> True Grip</span></td>
</tr>
<tr>
<td><span style="font-size: xx-small;"><strong>String Pattern:</strong><br />
16 Mains / 20 Crosses<br />
Mains skip: 7T,9T,7H,9H<br />
One Piece<br />
No shared holes</span></td>
</tr>
<tr>
<td><span style="font-size: xx-small;"><strong>String Tension:</strong> 50-60 pounds</span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Thanks to its even balanced design, the nTour Two swings with good mass from the baseline, making it a great choice for a player looking for a solid playing racquet that&#8217;s still easy to get around. Spin and pace come easily on serve and we found a predictable response both on flat and spin serves. Stronger intermediate to advanced level players will find this one has a lot to offer from all areas of the court. Recommended for players at the 4.0+ level.</p>
<p>Sumber: <a href="http://www.tennis-warehouse.com/Wilson_nTour_Two_nCode/descpageRCWILSON-WNT2.html">Tennis Warehouse</a></p></blockquote>
<p>Akhirnya setelah riset berbagai raket, jatuhlah pilihan paling serius saya ke raket Wilson nTour Two nCode ini. Karakteristik berat (288 gram) dengan headsize 95 sq.in. ini membuat saya jatuh hati. Konstruksinya yang stabil dengan tambahan wing pada <em>head</em> arah jam 3 dan 9 untuk menghindari raket berputar saat menerima bola cepat. Tak lupa warnanya sesuai warna favorit saya, cokelat! Cokelat keemasan, lebih tepatnya. Warna ini membuat raket nampak eksklusif dan berkelas, bukan? Jadi, teknologi bertemu dengan estetika. Mantap!</p>
<p>Begitu banyak <a href="http://www.tennis-warehouse.com/feedback-WNT2.html">respon positif</a> yang ditunjukkan orang untuk raket <em>all-round players</em> ini. Maka dengan bekal riset itu saya pun tak ragu menggunakannya. Hasilnya? Sangat memuaskan! Pukulan <em>groundstroke, slice, volley </em>dan<em> serve</em> semakin membaik. Lebih hebatnya lagi, dengan teknologi <em>foam</em> pada konstruksinya, getaran pukulan dapat diredam sehingga tidak berpotensi menyebabkan <em>tennis elbow</em>.</p>
<p>Raket ini memang bukan keluaran terbaru dari Wilson. Raket ini penyempurnaan (versi terakhir) dari Wilson nTour nCode sebelum Wilson K-Factor diluncurkan. Versi setelah K-Factor adalah Wilson BLX yang digunakan Federer sekarang ini. Sejarahnya keluar pertama kali di tahun 2006/2007 dan konon pernah digunakan oleh pemain WTA Justine Henin (Belgia) dan Lindsay Davenport (USA).</p>
<p>Senar pertama yang saya gunakan di raket ini adalah Toalson Cyberspin 135 dengan tarikan 55 lbs. Saat menggunakannya saya bingung karena tiba-tiba raket terasa lebih berat dari seharusnya. Belakangan saya tahu bahwa senar yang saya gunakan ini mempunyai diameter yang lebar (Gauge: 15 atau 16). Diameter yang lebar mengakibatkan volume (dan berat) yang lebih besar. Walaupun judulnya cyberspin, senar ini tidak membantu saya membuat pukulan spin akibat kendala berat tadi. Tenaga yang saya hasilkan pun rendah karena kombinasi senar tebal, tarikan sedang, dan headsize yang kecil tidak sesuai dengan tangan saya. Saya harus loncat-loncat untuk menghasilkan pukulan yang cepat.</p>
<p>Senar kedua adalah Toalson Ultrasoft (Gauge: 16) dengan tarikan 54 lbs. Senar ini empuk dan powernya kelebihan sedikit. Saya menghasilan serve-server cepat, namun tidak pukulan-pukulan spin. Karakter senar ini cukup elastis namun karena ukuran diameternya yang agak besar, senar tidak punya kemampuan untuk mencengkeram bola. Ini dibutuhkan untuk menghasilkan kontrol dan pukulan spin. Selain itu, karena tarikan yang relatif tidak tinggi, senar lari kemana-mana saat melakukan pukulan-pukulan spin.</p>
<p>Senar terakhir dan masih digunakan dengan cukup puas adalah Prince Synthetic Gut with Duraflex (PSGD) (Gauge: 17) dengan tarikan 56 lbs. Awalnya saya sempat menganggap remeh senar ini karena senar ini merupakan salah satu senar dengan harga ekonomis yang paling laku sedunia. Eh, ternyata ujung-ujungnya saya pakai juga. Senar ini sejauh ini menjawab kebutuhan saya untuk menghasilkan kontrol, spin, power, dan kenyamanan. PSGD juga baik menahan tarikan sehingga senar tidak lari kemana-mana. Dengan warnanya yang kuning keemasan, senar ini nampak harmonis dengan Wilson nTour Two yang cokelat keemasan tadi. Klop sudah.</p>
<p>Fiuh&#8230; setelah beberapa kali berganti raket sambil mengembangkan permainan, dapat lah akhirnya dengan raket dan senar yang (sejauh ini) paling pas. Saya berharap raket ini cukup bisa bertahan hingga 2-3 tahun ke depan. Kalau senar, mungkin saya akan mencoba yang lain jika ternyata PSGD ini mudah putus atau ada senar lain yang lebih baik (selama harganya tetap ekonomis,<em>hehehe&#8230;</em>).</p>
<p>Sekian reportase sejarah raket dan senar tenis saya. Saatnya kembali ke lapangan <img src='http://agungprasetyo.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>&#8212;<br />
Tamat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agungprasetyo.org/2011/06/27/mencari-raket-dan-senar-tenis-yang-pas-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

