<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Agung Prasetyo</title>
	<atom:link href="http://agungprasetyo.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://agungprasetyo.org</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 12 Oct 2011 19:51:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Antena Eksternal Modem ZTE AC2726 vs XL</title>
		<link>http://agungprasetyo.org/2011/10/07/antena-eksternal-modem-ac2726/</link>
		<comments>http://agungprasetyo.org/2011/10/07/antena-eksternal-modem-ac2726/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Oct 2011 16:40:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[antenna]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[cdma]]></category>
		<category><![CDATA[elektronik]]></category>
		<category><![CDATA[gsm]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[XL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agungprasetyo.org/?p=1819</guid>
		<description><![CDATA[Apa jadinya bila saat memasuki kamar kos sinyal HP mendadak turun drastis? Tidak hanya satu operator, tapi setidaknya 3 operator tidak berdaya menghadirkan kecepatan data 3G/HSDPA di ruangan ini. EDGE pun didapat dengan bersabar setelah mencoba berbagai posisi, itu pun ngos-ngosan. Lalu, apa akal? Pindah kos sempat terpikir, walau tentu repot. Lokasi yang sekarang sudah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa jadinya bila saat memasuki kamar kos sinyal HP mendadak turun drastis? Tidak hanya satu operator, tapi setidaknya 3 operator tidak berdaya menghadirkan kecepatan data 3G/HSDPA di ruangan ini. EDGE pun didapat dengan bersabar setelah mencoba berbagai posisi, itu pun ngos-ngosan. Lalu, apa akal?</p>
<p>Pindah kos sempat terpikir, walau tentu repot. Lokasi yang sekarang sudah relatif enak, plus harganya yang terjangkau dengan fasilitas yang ada. Ada sih, di sekitar Karet Kuningan, Jaksel ini yang menawarkan kos kumplit dengan internet dan TV kabel, hanya tentu harus merogoh kocek lebih dalam 2 hingga 3 kali lipat. No, thank you.<span id="more-1819"></span></p>
<p>Lalu suatu hari terpikir solusi lain. Saya ingat bahwa modem CDMA saya yang dibundling paket Smartfren (dulu Smart saja), ZTE AC2726, punya satu port kecil di samping bodinnya untuk colokan antena eksternal. Yup, antena eksternal ini berfungsi menguatkan sinyal sehingga sinyal yang dikirim dan diterima akan lebih kencang dibandingkan tanpanya. Tolong anak elektro kasih tahu ya kalau salah, sotoy nih <img src='http://agungprasetyo.org/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  Well, pantas dicoba nih sebagai solusi satu-satunya. Masa kalau mau dapat sinyal bagus mesti keluar kamar ke ruang tengah atau ke teras depan. Capek di jalan! (emang pake macet, bang!).</p>
<p style="text-align: center;">Tada!</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Antenna Ext ZTE 2726" src="http://www.iklanmanis.com/images/iklan/100802052457Ext-Antenna-Smart-ZTE-AC-2726.jpg" alt="" width="483" height="412" /></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Antenna EXT - 1" src="https://lh5.googleusercontent.com/-Wx734LMxzrg/To8gFf1oz0I/AAAAAAAAAig/g4uXl4n4m8Q/s400/2011-10-07%25252022.38.55.jpg" alt="" width="300" height="400" /></p>
<p style="text-align: center;">Karena keterbatasan ruang, antena disimpan di tempat yang tinggi di kamar. Sulit menyimpannya di luar yang mungkin akan mendapatkan tangkapan sinyal yang lebih baik.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Antenna EXT - 2" src="https://lh4.googleusercontent.com/-l7n5VTNOCBY/To8f6t_W42I/AAAAAAAAAiU/ty3732vOYU4/s400/2011-10-07%25252022.40.10.jpg" alt="" width="300" height="400" /></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Antenna EXT - 3" src="https://lh3.googleusercontent.com/-jDMQMJ2tCOM/To8f60nwE2I/AAAAAAAAAic/rZcTk1hCX2E/s400/2011-10-07%25252022.41.56.jpg" alt="" width="400" height="300" /></p>
<p style="text-align: center;">Hasilnya? Not bad, lah!</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Speedtest 1" src="https://lh4.googleusercontent.com/-CBh4NAnCmik/To8nKz5RxXI/AAAAAAAAAi0/pP5MPtWUIjY/s800/1522070023.png" alt="" width="300" height="135" /></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Speedtest 2" src="https://lh3.googleusercontent.com/-0DE0V3OIs-g/To8nKXUembI/AAAAAAAAAiw/44S-kMXXKpA/s800/1505002954.png" alt="" width="300" height="135" /></p>
<p style="text-align: left;">Hasilnya relatif sama dengan yang saya dapat di Bandung (Kircon/Soekarno-Hatta) di sekitar kantor Smartfren. Paket yang dipilih adalah di hasil tes pertama adalah paket true unlimited Premium (download s/d 384Kbps, upload s/d 128 Kbps). Yang kedua dengan paket volume based (download s/d 3,1 Mbps, upload s/d 1,8 Mbps). Kok sama, ya? Hehehe&#8230;kayanya hasil tes kedua belum hoki, harusnya bisa lebih nendang. Tapi segini cukup lah, kan bukan mau buka game online, hihihi..Oh ya, harga antena ini tidak sampai 200 ribu rupiah saja. Seharga modem baru, lah. Tapi apa artinya modem tanpa sinyal? <img src='http://agungprasetyo.org/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: left;">Kalau lihat di gambar [4], antena ini nampaknya bisa juga digunakan oleh modem GSM, tinggal disesuaikan adapter/pigtail-nya agar cocok dengan port antena eksternal modem GSM tersebut. Jadi, masalah terpecahkan untuk sementara waktu. Ini jauh lebih efisien daripada pindah kos. Sempat terpikir untuk mencoba antena wajan bolik yang dipopulerkan pak Onno tempo hari. Cuma sayang, saya bingung nanti mau simpang wajannya di mana. Di mana&#8230;di mana&#8230;di mana&#8230; *mendadak dangdut.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Update:</strong></p>
<p style="text-align: left;">Pagi setelah malam tulisan ini dibuat, alhamdulillah saya mendapatkan posisi bagus untuk mendapatkan sinyal 3G/HSDPA XL! Berikut hasilnya:</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Sppedtest XL - 1" src="https://lh4.googleusercontent.com/-79OcoNz02bM/To-coqXq2fI/AAAAAAAAAjI/aXpYd3uVJ-I/s800/1522786124.png" alt="" width="300" height="135" /></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Speedtest XL - 2" src="https://lh5.googleusercontent.com/-GYnUm1Qpu1c/To-cpFw5t_I/AAAAAAAAAjM/DVIuTi4cqUo/s800/1522784768.png" alt="" width="300" height="135" /></p>
<p style="text-align: left;">Sekilas perbandingannya bahwa kecepatan download XL lebih baik hampir 2 kali Smart, dan upload Smart lebih cepat sampai lebih dari 2 kali XL. Jadi, pilih mana? Well, kalau XL bisa konstan dapat segitu, ya lebih baik pakai XL saja, karena kan mayoritas penggunaan internet melibatkan kecepatan download, bukan upload. Nah, saya pun bisa lebih hemat karena toh pulsa XL sudah disubsidi alias gratis (ada limitnya, lho!), tinggal registrasi paket internet unlimited bulanan. Pilihan paketnya sesuai di <a href="http://www.xl.co.id/language/id-id/internet/unlimited/bulanan">sini</a>:</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Paket Internet Unlimited XL" src="https://lh4.googleusercontent.com/-pX3cw0TSA6U/To-f-wYV3-I/AAAAAAAAAjg/gdz-ZdgNXBA/s800/Screen%252520shot%2525202011-10-08%252520at%2525207.55.13%252520AM.png" alt="" width="404" height="367" /></p>
<p style="text-align: left;">Bagi yang menggunakan paket ini dengan ponsel Samsung Android,  kabar baiknya adalah bisa bebas Data Roaming kalau main ke negara-negara Asia lainnya dan terkoneksi dengan operator-operator dalam grup Axiata. Sekian iklannya.</p>
<p style="text-align: left;">Kalau begini saya bisa langganan satu paket internet unlimited bulanan XL yang bisa digunakan untuk mobile (Android) sekaligus modem kalau sedang di kos. Lebih hebat lagi kalau saya bisa gunakan antena eksternal penguat sinyal itu untuk menguatkan sinyal XL. Tapi sayang, di ponsel nggak ada port eksternal untuk antena. Well, no problemo, yang penting kebutuhan dasar sudah terpenuhi secara ekonomis. Sekian.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Update</strong>:</p>
<p style="text-align: left;">Sinyal XL di sini ternyata tidak stabil sekitar jam9-11 malam. Alih-alih dapat 3G/HSDPA, yang didapat &#8216;cuma&#8217; EDGE. Setelah dipikir, akhirnya diputuskan untuk kembali menggunakan Smart dengan paket langganan volumen 2GB/bulan dengan biaya langganan cukup Rp. 50.000 saja.</p>
<p style="text-align: left;"><img class="aligncenter" title="Smart Volume 2GB" src="https://lh6.googleusercontent.com/-_L3u63EssXw/TpXuw-CVWoI/AAAAAAAAAko/h3fuRJ2UovI/s640/Screen%252520shot%2525202011-10-13%252520at%2525202.40.53%252520AM.png" alt="" width="640" height="86" /></p>
<p style="text-align: left;">Belum cukup? Setiap pengisian pulsa Rp. 50.000 Smart memberikan bonus internet volume 500MB dengan kecepatan download up to 3,1 Mbps. Jadi total jendral 2,5GB/bulan. Lumayan, kan? Kecepatan?</p>
<p style="text-align: left;"><img class="aligncenter" title="Speedtest vol2000 1" src="https://lh4.googleusercontent.com/-h79iyqnUqhM/TpXuz6WHauI/AAAAAAAAAkw/T5m66DsaUg4/s800/1531219174.png" alt="" width="300" height="135" /></p>
<p style="text-align: left;"><img class="aligncenter" title="Speedtest vol2000 2" src="https://lh3.googleusercontent.com/-keptcsIublc/TpXuz1iiMtI/AAAAAAAAAk0/O_slmGF-HUI/s800/1531216899.png" alt="" width="300" height="135" /></p>
<p style="text-align: left;">Bungkus!</p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: left;">Gambar: [<a href="http://www.iklanmanis.com/images/iklan/100802052457Ext-Antenna-Smart-ZTE-AC-2726.jpg">1</a>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agungprasetyo.org/2011/10/07/antena-eksternal-modem-ac2726/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips biar nasi nggak kering</title>
		<link>http://agungprasetyo.org/2011/10/07/today-07102011/</link>
		<comments>http://agungprasetyo.org/2011/10/07/today-07102011/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Oct 2011 06:04:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[memasak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agungprasetyo.org/?p=1807</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini baru nyadar cara untuk meminimalisasi nasi kering di rice cooker. Dahsyat banget ini tips! Siap-siap ya! Jarak waktu antara makan siang dan makan malam kan lumayan bikin (sebagian) nasi kering dan gak bisa kemakan di rice cooker. Ya, emang karena untuk dimakan sendiri, sekali masak nasi cukup untuk dua kali waktu makan ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Nasi in Black Bowl" src="http://4.bp.blogspot.com/_6WPi1FIGkUs/TKRU_AU0kRI/AAAAAAAAAjU/AJr0-O-jxjM/s1600/nasi.jpg" alt="" width="295" height="350" /></p>
<p style="text-align: left;">Hari ini baru nyadar cara untuk meminimalisasi nasi kering di rice cooker. Dahsyat banget ini tips! Siap-siap ya!</p>
<p style="text-align: left;">Jarak waktu antara makan siang dan makan malam kan lumayan bikin (sebagian) nasi kering dan gak bisa kemakan di rice cooker. Ya, emang karena untuk dimakan sendiri, sekali masak nasi cukup untuk dua kali waktu makan ini saja. Cara paling naif yaitu menambah proporsi air terhadap nasi. Semakin banyak air membuat nasi akan semakin lama mengalami kekeringan, bukan? Soalnya dibutuhkan waktu lebih lama untuk menguapkan lebih banyak volume air pada nasi. Konsekuensinya, nasi jadi berair alias lembek. Gak jadi bubur sih, cuma yaaa basah aja. Nggak enak, coy!<span id="more-1807"></span></p>
<p style="text-align: left;">Cara lain yang lebih cerdas adalah saat nasi matang, gunakan sendok nasi untuk &#8216;mengangkat&#8217; nasi dari dasar dan samping rice cooker. Ya betul, hal ini untuk mengurangi luas permukaan nasi yang &#8216;menempel&#8217; pada rice cooker. Karena kalau kita perhatikan, nasi yang biasanya cepat kering bukan lah nasi yang berada di tengah, melainkan di pinggir dan di bagian bawah, yang tepat bersentuhan dengan dinding-dinding rice cooker. Dengan &#8216;memisahkan&#8217; nasi, nasi tidak akan lengket sekaligus membuat daya tahan dari kekeringan semakin lama. Yah, sedikit lebih lama. Sedikiiiit aja. Setidaknya sampai waktu makan berikutnya yang menghabiskan seluruh nasi yang bersisa. Makanan jangan dibuang-buang, yaaa&#8230;</p>
<p style="text-align: left;">Sekian tips praktis nggak penting soal menanak nasi akibat rasa bersalah kalau banyak nasi kering yang tak termakan. Apapun yang terjadi, kita tetap negara pemakan nasi tertinggi di dunia dengan konsumsi rata-rata 139kg/orang/tahun. Hidup nasi!</p>
<p style="text-align: left;">Gambar: [<a href="http://4.bp.blogspot.com/_6WPi1FIGkUs/TKRU_AU0kRI/AAAAAAAAAjU/AJr0-O-jxjM/s1600/nasi.jpg">1</a>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agungprasetyo.org/2011/10/07/today-07102011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Random Pictures Today</title>
		<link>http://agungprasetyo.org/2011/10/06/random-pictures-today/</link>
		<comments>http://agungprasetyo.org/2011/10/06/random-pictures-today/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Oct 2011 02:38:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Galeri]]></category>
		<category><![CDATA[apple]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[sketch]]></category>
		<category><![CDATA[XL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agungprasetyo.org/?p=1788</guid>
		<description><![CDATA[Honestly, i have plenty of ideas to write here. But due to my lack of discipline in posting them regularly, now all these ideas stuck in my drafts and in my head, of course. So while i&#8217;m trying to get my conscious back, let me show you several random pictures i&#8217;ve taken during September to [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Honestly, i have plenty of ideas to write here. But due to my lack of discipline in posting them regularly, now all these ideas stuck in my drafts and in my head, of course. So while i&#8217;m trying to get my conscious back, let me show you several random pictures i&#8217;ve taken during September to early October. No Instagram added. Just pictures with stories behind.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Grha XL in Sketch" src="https://lh5.googleusercontent.com/-6H0cRtjuXvA/To0KDoKddnI/AAAAAAAAAhY/0G4J_QAihLI/s640/2011-09-12%25252007.44.11-1.jpg" alt="" width="640" height="456" />I sketched this early in the morning from a shopping centre across the building.<span id="more-1788"></span></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Grha XL and China Embassy" src="https://lh6.googleusercontent.com/-GyH8GUyUgoM/To0LRmn235I/AAAAAAAAAh0/txKzpReiOzg/s640/2011-09-12%25252007.50.54.jpg" alt="" width="640" height="480" />I admire the design of China Embassy&#8217;s rooftop. So&#8230;Chinese.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Book: Untuk Indonesia yang Kuat" src="https://lh4.googleusercontent.com/-3ll_TPCm1jU/To0KRIma6QI/AAAAAAAAAho/T3Ir5WqnONY/s640/2011-10-06%25252008.42.01.jpg" alt="" width="480" height="640" />I got this book for free as a gift from <a href="http://twitter.com/#!/mrshananto">Mrs. Ligwina Hananto</a> on Financial Talkshow at<a href="http://socmedfest.com/"> Social Media Festival</a>. Beware, it&#8217;s provocative! I couldn&#8217;t find the photo shoot when i (and two others) received this book next to the stage from @socmedfest&#8217;s site gallery, so i can&#8217;t post it here. Well, it&#8217;s up to you to believe it or not <img src='http://agungprasetyo.org/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Steve Jobs (1955-2011)" src="https://lh5.googleusercontent.com/-rY1i-dUs1WM/To0KLGrnpRI/AAAAAAAAAhc/5giFnOYpxgg/s640/Screen%252520shot%2525202011-10-06%252520at%2525208.49.52%252520AM.png" alt="" width="640" height="431" />Last but not least, it is an honor to live in the time of Steve Jobs (1955-2011) who passed away early in the morning today. I admired his passion to change the world through business and technology innovation in this century. Not to mention his taste of perfection that gave birth to beautiful Apple products. So many stories about this man. You&#8217;ll be remembered, Mr. Jobs. Stay Hungry, Stay Foolish.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agungprasetyo.org/2011/10/06/random-pictures-today/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nomor-Dua</title>
		<link>http://agungprasetyo.org/2011/09/15/nomor-dua/</link>
		<comments>http://agungprasetyo.org/2011/09/15/nomor-dua/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Sep 2011 03:47:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[karir]]></category>
		<category><![CDATA[telco]]></category>
		<category><![CDATA[XL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agungprasetyo.org/?p=1775</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Kenapa nggak ngelamar di nomor-satu aja?&#8221; &#8220;Oh, karena berada di nomor-dua itu jadi semangat mengejar nomor-satu. Kalau udah nomor-satu, mau mengejar siapa lagi? Hehehe&#8230;&#8221; Aha! Jawaban langsung kuutarakan karena pertanyaan itu sudah kuantisipasi sebelumnya. Hanya tidak kusangka akan ditanyakan di halal bi halal keluarga besarku. Yang bertanya adalah seorang ibu muda yang sudah bekerja di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>&#8220;Kenapa nggak ngelamar di nomor-satu aja?&#8221;<br />
&#8220;Oh, karena berada di nomor-dua itu jadi semangat mengejar nomor-satu. Kalau udah nomor-satu, mau mengejar siapa lagi? Hehehe&#8230;&#8221;</p></blockquote>
<p><a href="http://agungprasetyo.org/wp-content/uploads/2011/09/iklan-iklan-penuh-hikmah-dibulan-puasa2-iklan-iklan-penuh-hikmah-dibulan-puasa-3-xl-pengemis-minta-sedekah2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1781" title="iklan-iklan-penuh-hikmah-dibulan-puasa2-iklan-iklan-penuh-hikmah-dibulan-puasa-3-xl-pengemis-minta-sedekah2" src="http://agungprasetyo.org/wp-content/uploads/2011/09/iklan-iklan-penuh-hikmah-dibulan-puasa2-iklan-iklan-penuh-hikmah-dibulan-puasa-3-xl-pengemis-minta-sedekah2-300x189.jpg" alt="" width="300" height="189" /></a>Aha! Jawaban langsung kuutarakan karena pertanyaan itu sudah kuantisipasi sebelumnya. Hanya tidak kusangka akan ditanyakan di halal bi halal keluarga besarku. Yang bertanya adalah seorang ibu muda yang sudah bekerja di nomor-satu selama 4 tahun. Bekerja di urusan marketing, wajar ia bertanya seperti itu. Ujung-ujungnya bisa kutebak: salary / reward yang diberikan nomor-satu hampir pasti lebih besar daripada nomor-dua.<span id="more-1775"></span></p>
<p>Alasan klasik saat dahulu kala saya tidak melamar ke nomor-satu berkaitan dengan treshold / batas. Batas IPK, maksudnya, hahaha… Secara alami orang tentu tertarik bekerja di perusahaan swasta pelat merah yang menjadi market leader. Walaupun alasan karir tetap ada, tidak bisa dipungkiri hitung-hitungan reward membuat tekad lebih bulat, terutama bagi fresh graduates.</p>
<p>Bekerja di nomor-satu bukan tanpa risiko. Beberapa yang pernah saya dengar berkaitan dengan promosi, gaya kerja, dan kenyamanan. Pertimbangan politis untuk mempromosikan orang lebih terasa di nomor-satu daripada nomor-dua. Wajar karena sahamnya milik negara. Negara = politis, bukan? Seorang kawan yang bekerja 4-5 tahun di nomor-satu mengakuinya. Bahasa diplomatisnya, &#8220;Tidak selalu orang yang dipromosikan itu karena pertimbangan keahliannya&#8221;. Saya rasa ia pernah kalah saingan untuk dipromosikan akibat kandidat lain yang lebih &#8220;tidak ahli&#8221; menang secara politis dibanding dirinya.</p>
<p>Yang kedua, gaya kerja nomor-satu yang duitnya kencang membuat pendekatan kerjanya lebih condong memiliih vendor sebagai solusi. Kebanyakan vendor, kata kawan saya yang lain. Vendor di sini berarti membayar partner bisnis untuk memberi solusi atas kebutuhan bisnis perusahaan. &#8220;Kami di sini tidak menggantungkan sepenuhnya pada vendor. Kami juga belajar agar kami juga bisa menghandle problem tersebut&#8221;, kata pewawancara saya di nomor-dua setengah berpromosi. Ia membandingkan dengan perusahaan sejenis yang &#8216;berbeda gaya&#8217; dalam berhubungan dengan vendor. Saya rasa ya perusahaan nomor-satu itu.</p>
<p>Yang ketiga adalah kenyamanan yang ditawarkan membuat karyawan &#8220;lembam&#8221; (kembali meminjam istilah kawan). Sudah jamak kalau bekerja di perusahaan yang ada plat merahnya bahwa begitu kita sudah masuk, selama tidak melakukan pelanggaran berarti, maka kita akan baik-baik saja. Jauh dari lay-off. Apalagi semakin lama kita bekerja kan berarti pundi-pundi uang pun semakin bertambah. Maka semakin nyaman lah kita di dalamnya. Perkara apakah tantangan pekerjaan semakin meningkat atau karir semakin bersinar mungkin bukan urusan nomor satu.</p>
<p>Ah, saya memang sok tahu, Baru tahu sedikit dari obrolan orang-orang yang saya temui, saya sudah berani-berani membuat kesimpulan gambaran besarnya. Jangan-jangan saya disangka orang buta yang hanya memegang ekor kuda tapi sudah merasa bisa mendefinisikan kuda. Kita lihat saja dalam perjalanan waktu benar tidaknya opini ini. Yang jelas, suami ibu muda tadi, sempat menanyakan kepada saya jika ada lowongan untuk dirinya yang kini sedang bekerja di bank swasta asing. Kabarnya dia mendengar bahwa salary di nomor-dua lumayan walau tidak sebesar 24 kali gaji per tahun yang diterima istrinya. Well, salary again. Yah, setidaknya nomor-dua pun dilirik karena reward yang diberikannya. Lagipula ini kan bukan kecap, jadi nggak harus nomor satu <img src='http://agungprasetyo.org/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Bagi saya, sampai saat ini reward bukan yang utama, melainkan adanya kesempatan kita untuk mengaktualisasikan diri di lingkungan kerja yang mendukung untuk pertumbuhan diri dan karir kita. Dan jangan lupa, seperti judul buku Rene Suhardono, &#8220;Your Job is Not Your Career!&#8221; <img src='http://agungprasetyo.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agungprasetyo.org/2011/09/15/nomor-dua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pak, Saya Lulus!</title>
		<link>http://agungprasetyo.org/2011/09/14/pak-saya-lulus/</link>
		<comments>http://agungprasetyo.org/2011/09/14/pak-saya-lulus/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Sep 2011 16:52:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung]]></category>
		<category><![CDATA[dosen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agungprasetyo.org/2011/09/14/pak-saya-lulus/</guid>
		<description><![CDATA[Andri: Iya, sya harus berterima ksih seperti apa untuk membalas apa yg telah bpk ajarkan kpda sya. Amin pak. Sebut saja Andri, satu-satunya mahasiswa bimbingan saya saat saya masih di Poltek Telkom, hari ini berhasil menyelesaikan sidangnya dan dinyatakan lulus! Senang rasanya bisa membantu orang lain mencapai salah satu milestone hidupnya. Saya merasa hidup saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Andri: Iya, sya harus berterima ksih seperti apa untuk membalas apa yg telah bpk ajarkan kpda sya. Amin pak. 
</p>
</blockquote>
<p>
Sebut saja Andri, satu-satunya mahasiswa bimbingan saya saat saya masih di Poltek Telkom, hari ini berhasil menyelesaikan sidangnya dan dinyatakan lulus! Senang rasanya bisa membantu orang lain mencapai salah satu milestone hidupnya. Saya merasa hidup saya tambah berarti. Dirasakan manfaatnya oleh orang lain. Alhamdulillah. Profesi pengajar memang layaknya telaga amal jariyah untuk bekal kelak. Ganjaran perasaan lega di dunia dan lebih lagi di akhirat, insyaAllah. </p>
<blockquote><p>Saya: Hehe nyantai aja gak usah Andri, udah tngg jawab saya sebisa saya. Kamu dah lulus sy udah seneng kok. Semoga ilmunya kepake buat hidup <img src='http://agungprasetyo.org/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /> 
</p>
</blockquote>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agungprasetyo.org/2011/09/14/pak-saya-lulus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SMUN 3 Bdg in Panorama</title>
		<link>http://agungprasetyo.org/2011/08/05/smun-3-bdg-in-panorama/</link>
		<comments>http://agungprasetyo.org/2011/08/05/smun-3-bdg-in-panorama/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Aug 2011 23:50:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Galeri]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung]]></category>
		<category><![CDATA[smun3bdg]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agungprasetyo.org/?p=1770</guid>
		<description><![CDATA[Menurut akun twitter @wargatiga, 2 Agustus lalu adalah hari jadi SMU tercinta saat SMA A,B,C digabung menjadi SMU 3. CMIIW. Berikut sosok beberapa sudut sekolah dengan moto &#8220;Knowledge is Power but Character is More&#8221; ini tertanggal 2 Agustus 2011. Album lengkap di sini. #imissthosegoodolddays]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="display:block;margin-right:auto;margin-left:auto;" alt="image" src="http://agungprasetyo.org/wp-content/uploads/2011/08/wpid-2011-08-02-17.04.57.jpg" /></p>
<p>Menurut akun twitter @wargatiga, 2 Agustus lalu adalah hari jadi SMU tercinta saat SMA A,B,C digabung menjadi SMU 3. CMIIW.</p>
<p>Berikut sosok beberapa sudut sekolah dengan moto &#8220;Knowledge is Power but Character is More&#8221; ini tertanggal 2 Agustus 2011. Album lengkap di <a href="http://https://picasaweb.google.com/agungpras/SMUN3BDGInPanorama">sini.</a></p>
<p>#imissthosegoodolddays</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agungprasetyo.org/2011/08/05/smun-3-bdg-in-panorama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konsentrasi 50 Menit</title>
		<link>http://agungprasetyo.org/2011/07/11/konsentrasi-50-menit/</link>
		<comments>http://agungprasetyo.org/2011/07/11/konsentrasi-50-menit/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jul 2011 04:58:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[curhat]]></category>
		<category><![CDATA[kuliah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agungprasetyo.org/?p=1763</guid>
		<description><![CDATA[Pada sebuah referensi saya pernah membaca bahwa latar belakang waktu perkuliahan yang 1 jam = 50 menit itu adalah berdasarkan hasil riset yang menyatakan bahwa kemampuan otak untuk tetap berkonsentrasi di kelas sebelum membutuhkan waktu istirahat adalah 50 menit. Lama waktu ini tentu hasil rata-rata, itu pun mungkin untuk mahasiswa dengan tingkat intelektual tertentu, dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://www.cartoonstock.com/lowres/epa1436l.jpg" alt="Konsentrasi" /></p>
<p>Pada sebuah referensi saya pernah membaca bahwa latar belakang waktu perkuliahan yang 1 jam = 50 menit itu adalah berdasarkan hasil riset yang menyatakan bahwa kemampuan otak untuk tetap berkonsentrasi di kelas sebelum membutuhkan waktu istirahat adalah 50 menit. Lama waktu ini tentu hasil rata-rata, itu pun mungkin untuk mahasiswa dengan tingkat intelektual tertentu, dalam waktu tertentu (misal, pagi lebih optimal untuk belajar dibandingkan setelah makan siang), sampai seberapa menarik dosen menyajikan kuliahnya. Singkatnya, katakan saja dalam keadaan normal, mahasiswa (dan dosen) di kelas dalam satu jam sesi perkuliahan setidaknya harus berkonsentrasi pada kuliah selama 50 menit tersebut. Setelah lebih dari 50 menit, dibutuhkan jeda istirahat 5-10 menit untuk menyegarkan otak agar siap kembali.<span id="more-1763"></span></p>
<p>Ok, itu dalam keadaan normal. Bagaimana jika abnormal? Bagaimana jika ternyata sampel mahasiswa yang diuji dengan ketahanan 50 menit itu bukan mahasiswa dari kelas saya? Bagaimana jika ada mahasiswa-mahasiswa yang mengikuti kuliah hanya mampu bertahan untuk tetap fokus dalam waktu 10 menit saja?</p>
<blockquote><p>Sepuluh menit fokus, 10 menit ngobrol.<br />
Sepuluh menit memperhatikan dosen, 10 menit memperhatikan laptop (baca: facebook).<br />
Sepuluh menit melihat papan tulis, 10 menit melihat meja (baca: tidur)<br />
…</p></blockquote>
<p>Tidak semua mahasiswa kuat untuk diajak &#8216;berlari&#8217;. Tidak semua tahan untuk menanggung 50 menit itu. Alhasil, bak dirigen orkestra yang memainkan komposisi-komposisi lagu, dosen harus merasakan saat-saat yang tepat untuk memainkan tempo yang rapat, atau nada-nada tinggi yang menyundul-nyundul kesadaran. Jika perlu, sisipkan tanda diam tiga perempat atau penuh untuk menyisipkan pertanyaan yang menggelitik, menunggu pikiran-pikiran berkecamuk dalam hening. Tanya. Jawab. Aksi. Reaksi. Pancing. Respon.</p>
<p>Jumlah mereka yang kuat bertahan 50 menit termasuk minoritas. Selebihnya mereka harus introspeksi diri. Entah karena malamnya kurang tidur, karena sedang ada masalah, karena kurang gizi (<em>eh, bisa lho!</em>), karena tidak terbiasa belajar, karena lebih senang main, karena kurang motivasi, karena lebih suka belajar sambil bergerak, dan karena-karena yang lain. Salahkah mereka?</p>
<p>Atau sebenarnya saya yang harus mengaca. Jangan-jangan sajian kuliah saya tidak nikmat. Cukup hambar untuk hanya dirasakan setiap 10 menit saja. Kalau begitu apa boleh buat, saya harus lebih banyak berlatih meracik masakan kuliah. Kalau perlu ikut M@ster Chef. <em>Halah</em>.</p>
<p>Entah siapa yang salah. Mungkin dua-duanya salah. Perlu penelitian untuk menemukan penyebabnya. Dan lagi-lagi, penelitian kegiatan pengajaran yang melibatkan manusia tidak bisa cepat. Sayangnya, lagi-lagi (merasa) tidak ada waktu untuk hal-hal demikian. Kuliah harus disampaikan, tugas harus diberikan, dan ujian harus diselesaikan. Sadarnya tahu-tahu sudah akhir semester. <em>Weleh-weleh</em>.</p>
<p>Berikut saya lampirkan tips mengatasi masalah konsentrasi belajar dari <a href="http://hubpages.com/hub/study_skills_improve_your_concentration">sini</a>:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://s4.hubimg.com/u/1016639_f496.jpg" alt="Do well" width="397" height="298" /></p>
<ol>
<li>Select a place you like to study and where there are few distractions</li>
<li>Plan your study time so that you will have enough time to finish your work.</li>
<li>Make sure that you have all the materials and resources you need to finish the assignment.</li>
<li>Develop a positive mental attitude to the task ahead. Think about finishing your work and try to do well.</li>
<li>Remember your purpose for studying and make this your goal. Question yourself about what you are studying and then read actively for the answers.</li>
<li>Work in short sessions of forty to fifty minutes and take regular breaks to avoid getting tired.</li>
<li>Make notes and summaries of the main points you are studying and refer to them to check your progress</li>
<li>Break your work into smaller units of study and mark each unit off as you complete it.</li>
</ol>
</blockquote>
<p>&#8212;<br />
Gambar: [<a href="http://www.cartoonstock.com/lowres/epa1436l.jpg">1</a>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agungprasetyo.org/2011/07/11/konsentrasi-50-menit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencari Raket dan Senar Tenis yang Pas (3)</title>
		<link>http://agungprasetyo.org/2011/06/27/mencari-raket-dan-senar-tenis-yang-pas-3/</link>
		<comments>http://agungprasetyo.org/2011/06/27/mencari-raket-dan-senar-tenis-yang-pas-3/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Jun 2011 06:27:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[Babolat]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[olahraga]]></category>
		<category><![CDATA[Prince]]></category>
		<category><![CDATA[tennis]]></category>
		<category><![CDATA[Toalson]]></category>
		<category><![CDATA[Wilson]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agungprasetyo.org/?p=1743</guid>
		<description><![CDATA[(Tulisan sebelumnya&#8230;) Ebox Nano V88 &#38; Senar Ebox, Toalson Thermaxe 123, Toalson Thermaxe 18 Spin Raket berikutnya, Ebox Nano V88 ini akan selalu terkenang sebagai raket yang mengajari saya cara menghasilkan pukulan-pukulan spin. Dengan beratnya yang 270 gram dengan sekian poin head light, mudah sekali menghasilkan pukulan-pukulan topspin. Ternyata eh ternyata merk Ebox ini adalah merk official yang digunakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">(<a href="http://agungprasetyo.org/2011/06/27/mencari-raket-dan-senar-tenis-yang-pas-2/">Tulisan sebelumnya&#8230;</a>)</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Ebox Nano V88 &amp; Senar Ebox, Toalson Thermaxe 123, Toalson Thermaxe 18 Spin</strong></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Ebox Nano V88" src="https://lh4.googleusercontent.com/-kIYwkXnbuaw/TdxT2xSkmtI/AAAAAAAAAek/a8pIDDeXPH4/s400/DSCN1159.JPG" alt="" width="400" height="300" /></p>
<p style="text-align: left;">Raket berikutnya, Ebox Nano V88 ini akan selalu terkenang sebagai raket yang mengajari saya cara menghasilkan pukulan-pukulan <em>spin</em>. Dengan beratnya yang 270 gram dengan sekian poin <em>head light</em>, mudah sekali menghasilkan pukulan-pukulan <em>topspin</em>. Ternyata eh ternyata merk Ebox ini adalah merk <em>official</em> yang digunakan Pelti. Jadi, walaupun saya tidak menemukan situsnya di internet untuk mengecek keaslian tipe-tipenya, cap Pelti sudah cukup meyakinkan saya bahwa merk ini juga tidak kalah kualitasnya. Apalagi Ebox terkenal banyak bonusnya. Beli raket langsung dapat senar dan tas tenis. Dahulu teman saya cerita bahkan sampai dapat sepatu, <em>hehehe&#8230;<span id="more-1743"></span><br />
</em></p>
<p style="text-align: left;">Cukup lama pula Ebox ini menemani saya, hingga saya menemukan &#8216;kelemahannya&#8217;. Akibat bobot dan konstruksinya yang ringan, raket ini mengorbankan kestabilan. Beberapa kali raket berputar saat menghadapi bola-bola kencang, sehingga saat seharusnya saya dapat menghasilkan <em>dropshot</em>, eh justru bolanya jatuh di lapangan saya sendiri. Selain kestabilan, power nya pun saya rasa kurang. Saya harus mengeluarkan tenaga lebih untuk mengembalikan pukulan, apalagi untuk pukulan backhand. Lama-lama capek juga.</p>
<p style="text-align: left;">Senar pertama adalah senar gratisan dari Ebox. Senarnya standar, cocok di awal, lalu lama-lama kehilangan tegangan dan mulai mudah belok-belok setelah digunakan untuk memukul.</p>
<p style="text-align: left;">Senar kedua adalah Toalson Thermaxe 123. Senar ini berbahan polyester, yakni bahan yang terkenal lama putus, kaku, dan kurang elastis. Senar tipe ini banyak digunakan pemain profesional. Lagi-lagi, saya gelap mata mengikuti standar mereka. Senar yang seharusnya ditarik sebesar 51-52 lbs saja saya pasang di 55 lbs. Akibatnya raket Ebox ini terasa seperti papan! Keras bukan main. Untuk memukul forehand saya harus mengerahkan seluruh tenaga. Sampai loncat-loncat. Itupun kemudian terasa agak sakit di tangan karena &#8216;keras&#8217; rasanya. Senar ini memecahkan rekor karena hanya bertahan sehari, <em>hehehe&#8230;</em></p>
<p style="text-align: left;">Senar terakhir yang masih terpasang adalah Toalson Thermaxe 18 spin dengan tarikan 55 lbs. Entah bagaimana rasanya, karena belum pernah saya coba. Raket ini masih saya simpan sebagai cadangan.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Wilson nTour Two nCode &amp; Senar Toalson Cyberspin 135, Toalson Ultrasoft, PSGD 17</strong></p>
<p><img class="alignleft" title="Wilson nTour Two nCode" src="http://img.tennis-warehouse.com/new_big/WNT2-1.jpg" alt="" width="245" height="420" /></p>
<blockquote>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="2" width="150">
<tbody>
<tr>
<td><span style="font-size: x-small;">nTour Two 95 Specs</span></td>
</tr>
<tr>
<td><span style="font-size: xx-small;"><strong>Head Size:</strong><br />
95 sq. in. / 613 sq. cm.</span></td>
</tr>
<tr>
<td><span style="font-size: xx-small;"><strong>Length:</strong> 27.25 inches / 69 cm</span></td>
</tr>
<tr>
<td><span style="font-size: xx-small;"><strong>Strung Weight:</strong> 10.6oz / 301g</span></td>
</tr>
<tr>
<td><span style="font-size: xx-small;"><strong>Balance:</strong> 1pts Head Light</span></td>
</tr>
<tr>
<td><span style="font-size: xx-small;"><strong>Swingweight:</strong> 320</span></td>
</tr>
<tr>
<td><span style="font-size: xx-small;"><strong>Stiffness:</strong> 62</span></td>
</tr>
<tr>
<td><span style="font-size: xx-small;"><strong>Beam Width:</strong> 22 mm Straight Beam</span></td>
</tr>
<tr>
<td><span style="font-size: xx-small;"><strong>Composition:</strong> 25% nCoded Hyper Carbon / 75% nCoded Graphite</span></td>
</tr>
<tr>
<td><span style="font-size: xx-small;"><strong>Power Level:</strong> Low-Medium</span></td>
</tr>
<tr>
<td><span style="font-size: xx-small;"><strong>Swing Speed:</strong> Fast</span></td>
</tr>
<tr>
<td><span style="font-size: xx-small;"><strong>Grip Type:</strong> True Grip</span></td>
</tr>
<tr>
<td><span style="font-size: xx-small;"><strong>String Pattern:</strong><br />
16 Mains / 20 Crosses<br />
Mains skip: 7T,9T,7H,9H<br />
One Piece<br />
No shared holes</span></td>
</tr>
<tr>
<td><span style="font-size: xx-small;"><strong>String Tension:</strong> 50-60 pounds</span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Thanks to its even balanced design, the nTour Two swings with good mass from the baseline, making it a great choice for a player looking for a solid playing racquet that&#8217;s still easy to get around. Spin and pace come easily on serve and we found a predictable response both on flat and spin serves. Stronger intermediate to advanced level players will find this one has a lot to offer from all areas of the court. Recommended for players at the 4.0+ level.</p>
<p>Sumber: <a href="http://www.tennis-warehouse.com/Wilson_nTour_Two_nCode/descpageRCWILSON-WNT2.html">Tennis Warehouse</a></p></blockquote>
<p>Akhirnya setelah riset berbagai raket, jatuhlah pilihan paling serius saya ke raket Wilson nTour Two nCode ini. Karakteristik berat (288 gram) dengan headsize 95 sq.in. ini membuat saya jatuh hati. Konstruksinya yang stabil dengan tambahan wing pada <em>head</em> arah jam 3 dan 9 untuk menghindari raket berputar saat menerima bola cepat. Tak lupa warnanya sesuai warna favorit saya, cokelat! Cokelat keemasan, lebih tepatnya. Warna ini membuat raket nampak eksklusif dan berkelas, bukan? Jadi, teknologi bertemu dengan estetika. Mantap!</p>
<p>Begitu banyak <a href="http://www.tennis-warehouse.com/feedback-WNT2.html">respon positif</a> yang ditunjukkan orang untuk raket <em>all-round players</em> ini. Maka dengan bekal riset itu saya pun tak ragu menggunakannya. Hasilnya? Sangat memuaskan! Pukulan <em>groundstroke, slice, volley </em>dan<em> serve</em> semakin membaik. Lebih hebatnya lagi, dengan teknologi <em>foam</em> pada konstruksinya, getaran pukulan dapat diredam sehingga tidak berpotensi menyebabkan <em>tennis elbow</em>.</p>
<p>Raket ini memang bukan keluaran terbaru dari Wilson. Raket ini penyempurnaan (versi terakhir) dari Wilson nTour nCode sebelum Wilson K-Factor diluncurkan. Versi setelah K-Factor adalah Wilson BLX yang digunakan Federer sekarang ini. Sejarahnya keluar pertama kali di tahun 2006/2007 dan konon pernah digunakan oleh pemain WTA Justine Henin (Belgia) dan Lindsay Davenport (USA).</p>
<p>Senar pertama yang saya gunakan di raket ini adalah Toalson Cyberspin 135 dengan tarikan 55 lbs. Saat menggunakannya saya bingung karena tiba-tiba raket terasa lebih berat dari seharusnya. Belakangan saya tahu bahwa senar yang saya gunakan ini mempunyai diameter yang lebar (Gauge: 15 atau 16). Diameter yang lebar mengakibatkan volume (dan berat) yang lebih besar. Walaupun judulnya cyberspin, senar ini tidak membantu saya membuat pukulan spin akibat kendala berat tadi. Tenaga yang saya hasilkan pun rendah karena kombinasi senar tebal, tarikan sedang, dan headsize yang kecil tidak sesuai dengan tangan saya. Saya harus loncat-loncat untuk menghasilkan pukulan yang cepat.</p>
<p>Senar kedua adalah Toalson Ultrasoft (Gauge: 16) dengan tarikan 54 lbs. Senar ini empuk dan powernya kelebihan sedikit. Saya menghasilan serve-server cepat, namun tidak pukulan-pukulan spin. Karakter senar ini cukup elastis namun karena ukuran diameternya yang agak besar, senar tidak punya kemampuan untuk mencengkeram bola. Ini dibutuhkan untuk menghasilkan kontrol dan pukulan spin. Selain itu, karena tarikan yang relatif tidak tinggi, senar lari kemana-mana saat melakukan pukulan-pukulan spin.</p>
<p>Senar terakhir dan masih digunakan dengan cukup puas adalah Prince Synthetic Gut with Duraflex (PSGD) (Gauge: 17) dengan tarikan 56 lbs. Awalnya saya sempat menganggap remeh senar ini karena senar ini merupakan salah satu senar dengan harga ekonomis yang paling laku sedunia. Eh, ternyata ujung-ujungnya saya pakai juga. Senar ini sejauh ini menjawab kebutuhan saya untuk menghasilkan kontrol, spin, power, dan kenyamanan. PSGD juga baik menahan tarikan sehingga senar tidak lari kemana-mana. Dengan warnanya yang kuning keemasan, senar ini nampak harmonis dengan Wilson nTour Two yang cokelat keemasan tadi. Klop sudah.</p>
<p>Fiuh&#8230; setelah beberapa kali berganti raket sambil mengembangkan permainan, dapat lah akhirnya dengan raket dan senar yang (sejauh ini) paling pas. Saya berharap raket ini cukup bisa bertahan hingga 2-3 tahun ke depan. Kalau senar, mungkin saya akan mencoba yang lain jika ternyata PSGD ini mudah putus atau ada senar lain yang lebih baik (selama harganya tetap ekonomis,<em>hehehe&#8230;</em>).</p>
<p>Sekian reportase sejarah raket dan senar tenis saya. Saatnya kembali ke lapangan <img src='http://agungprasetyo.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>&#8212;<br />
Tamat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agungprasetyo.org/2011/06/27/mencari-raket-dan-senar-tenis-yang-pas-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencari Raket dan Senar Tenis yang Pas (2)</title>
		<link>http://agungprasetyo.org/2011/06/27/mencari-raket-dan-senar-tenis-yang-pas-2/</link>
		<comments>http://agungprasetyo.org/2011/06/27/mencari-raket-dan-senar-tenis-yang-pas-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Jun 2011 06:23:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[Babolat]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[olahraga]]></category>
		<category><![CDATA[tennis]]></category>
		<category><![CDATA[Toalson]]></category>
		<category><![CDATA[Wilson]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agungprasetyo.org/?p=1742</guid>
		<description><![CDATA[(Tulisan sebelumnya&#8230;) Babolat Reflex 105 &#38; Senar Babolat Synthetic Gut (Lupa tipenya) Preferensi saya masih Babolat. Maklum, efek ingin seperti petenis profesional ATP tadi. Dengan berat 270 gram, raket ini masih terhitung ringan. Dengan headsize nya yang oversize (105 sq.in.), raket ini menyediakan sweetspot yang relatif besar dan potensi untuk menghasilkan pukulan spin. Pada tahap ini, saya sudah pede dengan raketnya. Tapi belum dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">(<a href="http://agungprasetyo.org/2011/06/27/mencari-raket-dan-senar-tenis-yang-pas-1/">Tulisan sebelumnya&#8230;</a>)</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Babolat Reflex 105 &amp; Senar Babolat Synthetic Gut (Lupa tipenya)</strong></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Babolat Reflex 105" src="https://lh3.googleusercontent.com/-UZuZFVHjWQ0/TZLOsBMcSBI/AAAAAAAAAag/VhFOmJPkwh4/s400/DSCN1088.JPG" alt="" width="300" height="400" /></p>
<p style="text-align: left;">Preferensi saya masih Babolat. Maklum, efek ingin seperti petenis profesional ATP tadi. Dengan berat 270 gram, raket ini masih terhitung ringan. Dengan headsize nya yang oversize (105 sq.in.), raket ini menyediakan sweetspot yang relatif besar dan potensi untuk menghasilkan pukulan spin.<span id="more-1742"></span></p>
<p style="text-align: left;">Pada tahap ini, saya sudah pede dengan raketnya. Tapi belum dengan senarnya. Saya masih belum paham senar apa yang cocok dan berapa tarikan yang pas. Saat itu saya gunakan senar Babolat Synthetic Gut (lupa tipenya) dengan tarikan 53 lbs. Belakangan baru saya tahu mungkin kombinasi itu yang menyebabkan bola sering out. Tarikan terlalu rendah untuk raket yang punya power.</p>
<p style="text-align: left;">Cukup lama saya gunakan raket ini, sampai saya merasa bahwa power yang dihasilkan terlalu besar. Begitu sering bola out, sehingga kalau main, pukulannya cari aman. Di sisi lain, raket ini enak untuk backhand. Namun dengan berat hati, raket ini saya lepas pada orang lain yang mungkin lebih pas menggunakannya. <em>Bye bye, my first Babolat.</em></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><strong>Babolat Pure Control Team &amp; Senar Toalson Thermaxe 18 Spin</strong></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Babolat Pure Control Team" src="https://lh3.googleusercontent.com/-UR1JV2iK7UA/TdxLgm54uAI/AAAAAAAAAcQ/liFEUtXdV7s/s400/DSCN1177.JPG" alt="" width="400" height="300" /></p>
<p style="text-align: left;">Raket ini ditawarkan oleh pelatih pada suatu sesi latihan. Konon pemiliknya seorang bapak-bapak. Aneh juga, biasanya bapak-bapak pakai Wilson. Kalau Babolat identik dengan tenis prestasi atau anak-anak muda yang nafsu (dan tenaga) memukul bolanya besar, <em>hehehe&#8230;</em></p>
<p style="text-align: left;">Babolat Pure Control Team ini adalah generasi awal dari raket-raket Babolat yang banyak digunakan sekarang. Saat mencobanya pertama kali, saya kaget dengan pukulan-pukulan yang dihasilkanya. Rasanya begitu mudah membuat pukulan bagus dengan net-clearance yang rendah, alias tipis di atas net. <em>Wow</em>. Dengan beratnya yang mencapai 320 gram dan headsizenya yang midplus (97 sq. in.), saya merasa menggunakan raket atlet (player&#8217;s racket). Kepercayaan diri melambung bukan main!</p>
<p style="text-align: left;">Cukup lama pula raket ini saya suka sampai saya menemukan &#8216;kelemahannya&#8217;. Kelemahan yang saya maksud adalah beratnya. Saya baru menyadari setelah beberapa lama bahwa berat raket di atas 300 gram tidak cocok buat saya. Saya akan lebih cepat lelah bermain menggunakan raket seberat itu. Plus sulit digunakan untuk pukulan-pukulan volley yang menuntut refleks cepat. Walaupun raket berat berarti tambahan power dan kestabilan, tapi tetap it&#8217;s just too heavy for me. Andai saja beratnya lebih ringan, tentu tidak masalah.</p>
<p style="text-align: left;">Saya sudah mulai berani mencoba eksperimen senar, khususnya untuk spin. Maklum, pemula ingin cepat jago bicaranya sudah pukulan spin. Senar Toalson Thermaxe Spin 18 yang disarankan mas-mas di toko olahraga saya pakai juga. Lumayan bisa menghasilkan pukulan-pukulan spin yang merepotkan lawan. Tapi nampaknya tarikan 54 lbs masih terasa kurang kencang, akibatnya tak jarang bola melambung keluar garis lapangan.</p>
<p style="text-align: left;">Entah karena kombinasi raket dan senar yang kurang pas ini, kontrol bola pun rendah. Jikalau saja raket ini bertemu tangan dan senar yang tepat, tentu hasilnya adalah pukulan-pukulan yang bagus dan mematikan. <em>Dor! dor! dor!</em></p>
<p style="text-align: left;">&#8212;<br />
Bersambung ke (<a href="http://agungprasetyo.org/2011/06/27/mencari-raket-dan-senar-tenis-yang-pas-3/">3</a>)&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agungprasetyo.org/2011/06/27/mencari-raket-dan-senar-tenis-yang-pas-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencari Raket dan Senar Tenis yang Pas (1)</title>
		<link>http://agungprasetyo.org/2011/06/27/mencari-raket-dan-senar-tenis-yang-pas-1/</link>
		<comments>http://agungprasetyo.org/2011/06/27/mencari-raket-dan-senar-tenis-yang-pas-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Jun 2011 06:20:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[Babolat]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[olahraga]]></category>
		<category><![CDATA[tennis]]></category>
		<category><![CDATA[Wilson]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agungprasetyo.org/?p=1728</guid>
		<description><![CDATA[How&#8217;s life? Lama waktu berlalu sejak posting-an terakhir saya. Banyak yang terjadi beberapa bulan ini, semoga bisa dicicil ceritanya. Maklum, sok sibuk. Saya mulai saja dari yang masih segar di ingatan, OK? Saya diperkenalkan pada tenis pertama kali waktu SMP. Ayah saya yang saat itu hobi bermain tenis, membawa saya berlatih tenis pada pelatih di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>How&#8217;s life? Lama waktu berlalu sejak posting-an terakhir saya. Banyak yang terjadi beberapa bulan ini, semoga bisa dicicil ceritanya. Maklum, sok sibuk. Saya mulai saja dari yang masih segar di ingatan, OK?</p>
<p>Saya diperkenalkan pada tenis pertama kali waktu SMP. Ayah saya yang saat itu hobi bermain tenis, membawa saya berlatih tenis pada pelatih di Lapangan Taman Maluku, Bandung. Di sini ada sekolah tenis bernama FIKS (Fikiran Inti Keunggulan Sport). Oya, jangan tanya saya alasan kepanjangan singkatan FIKS yang seperti itu, hehe&#8230; Sekolah ini yang melahirkan salah satu petenis puteri nasional, Angelique Wijaya. Saya tidak bergabung di FIKS, hanya berlatih di lapangannya saja.<span id="more-1728"></span></p>
<p>Singkat cerita, saya berlatih menggunakan raket tenis milik ayah. Belakangan saya tahu bahwa raket Wilson Hammer milik beliau itu didesain untuk digunakan oleh orang tua dengan gaya swing yang pendek. Sebenarnya tidak cocok digunakan oleh remaja tanggung yang baru belajar. Tapi saat itu saya tidak terpikir apapun, demikian juga ayah saya. Demikian pula sekian banyak pemula dalam tenis, bahkan sampai yang sudah memainkannya sekian lama, tidak memahami faktor raket dan senar sangat berpengaruh dalam olahraga ini. Yang saya paham saat itu, belajar saja cara mengayunkan raket untuk memukul bola dengan tipe pukulan<em> groundstroke</em>, baik <em>forehand</em> maupun <em>backhand</em>. Begitu selama berbulan-bulan, diselingi pukulan <em>volley</em> dan <em>serve</em>.</p>
<p>Pelatih seingat saya tidak pernah menyinggung perihal raket. Memang panjang ceritanya dan dibutuhkan eksperimen untuk menemukan kombinasi raket dan senar yang tepat untuk gaya permainan kita. Oleh karena itu, biarkan saja pemain menggunakan raket apapun yang dimiliki untuk datang dan berlatih pukulan. Sudah syukur pemain bisa rajin datang seminggu sekali, <em>hehehe&#8230;</em></p>
<p>Sekian lama berlalu sejak terakhir kali saya bermain di Taman Maluku itu. Sekitar 6 bulan yang lalu, saya memutuskan untuk kembali bermain tenis. Tapi dengan tekad, kali ini harus lebih serius.</p>
<p><strong>Wilson Hyper Hammer 5.3 Oversize &amp; Senar-Entah-Apa</strong></p>
<p><strong><img class="alignleft" style="margin: 5px;" title="Wilson Hyper Hammer 5.3" src="http://img.tennis-warehouse.com/new_big/53OS-1.jpg" alt="" width="245" height="420" /><span style="font-weight: normal;"> </span></strong></p>
<blockquote>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="2" width="150">
<tbody>
<tr>
<td><span style="font-size: x-small;">Oversize Specs</span></td>
</tr>
<tr>
<td><span style="font-size: xx-small;"><strong>Head Size:</strong><br />
110 sq. in. / 710 sq. cm.</span></td>
</tr>
<tr>
<td><span style="font-size: xx-small;"><strong>Length:</strong> 27.5 inches / 70 cm</span></td>
</tr>
<tr>
<td><span style="font-size: xx-small;"><strong>Strung Weight:</strong> 9oz / 255g</span></td>
</tr>
<tr>
<td><span style="font-size: xx-small;"><strong>Balance:</strong> 8 pts Head Heavy</span></td>
</tr>
<tr>
<td><span style="font-size: xx-small;"><strong>Swingweight:</strong> 301</span></td>
</tr>
<tr>
<td><span style="font-size: xx-small;"><strong>Stiffness:</strong> 70</span></td>
</tr>
<tr>
<td><span style="font-size: xx-small;"><strong>Beam Width:</strong> 28 mm/25 mm Dual Taper Beam</span></td>
</tr>
<tr>
<td><span style="font-size: xx-small;"><strong>Composition:</strong> 15% Hyper Carbon / 85% Graphite</span></td>
</tr>
<tr>
<td><span style="font-size: xx-small;"><strong>Power Level:</strong> Medium</span></td>
</tr>
<tr>
<td><span style="font-size: xx-small;"><strong>Swing Speed:</strong> Moderate-Fast</span></td>
</tr>
<tr>
<td><span style="font-size: xx-small;"><strong>Grip Type:</strong> Cushion Aire Conform Grip</span></td>
</tr>
<tr>
<td><span style="font-size: xx-small;"><strong>String Pattern:</strong><br />
16 Mains / 20 Crosses<br />
Mains skip: 7T,9T,7H,9H<br />
One Piece<br />
No shared holes</span></td>
</tr>
<tr>
<td><span style="font-size: xx-small;"><strong>String Tension:</strong> 53-63 pounds</span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Best suited to 4.0-5.0 level players with medium-full to full swings, the Hammer 5.3 Stretch racquet offers a nice combination of tempered power with control-oriented features. Doubles players may favor the Oversize because of the the power provided on serve with plenty of pop and forgiveness at net.<br />
Sumber: <a href="http://www.tennis-warehouse.com/Wilson_Hyper_Hammer_53_Stretch_OS/descpageRCWILSON-53OS.html">Tennis Warehouse</a></p></blockquote>
<p><strong><span style="font-weight: normal;">Ini adalah (tetap) raket milik ayah saya. Beliau sudah agak lama tidak memainkan tenis juga. Jadi, raketnya bisa saya pakai. Setelah mencoba bermain menggunakannya setelah lama hiatus tenis, ternyata kepercayaan diri saya jeblok. Saat bermain dengan rekan kantor yang sama sekali baru belajar tenis, saya tidak jauh beda. Tidaaaak! Bola keluar, menyangkut di net, sampai<em> </em>memukul ala <em>moonballer</em> itu sudah biasa. </span></strong></p>
<p><strong><span style="font-weight: normal;">Selain karena masih kaku, saya merasa tipe raket ini tidak kunjung cocok dengan gaya anak muda yang masih ingin mengayun raket dengan <em>full swing </em>dan <em>full power. </em>Saya merasa <em>power</em> nya terlalu besar sehingga membuat bola lebih sering <em>out</em>, dan <em>headsize </em>nya yang terlalu besar sehingga kontrolnya kurang. Senarnya pun belakangan saya tahu sudah mati alias tidak elastis lagi. <em>Pantesan</em>.</span></strong></p>
<p><strong><span style="font-weight: normal;">Kesimpulan: Raket ini (masih) cocok untuk ayah saya, bukan saya. Saya harus mencari raket yang memang cocok untuk saya. Maka petualangan pun dimulai.</span></strong></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: normal;"><strong>Wilson Fusion XL, Wilson KW, Babolat Aeropro KW &amp; Senar-Entah-Apa</strong></span></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="My Old Rackets" src="https://lh4.googleusercontent.com/-80PibH1UNx4/Tgf8z6fRy9I/AAAAAAAAAfA/74xcdrE6T7I/s400/Photo_021011_002.jpg" alt="" width="400" height="300" /></p>
<p>Wilson Fusion XL (gambar: kiri) saya beli saat sebuah diskon memotong harga raket ini sampai setengahnya. Menarik nih, pikir saya. Bisa beli Wilson ori pertama kalinya, dan nampaknya cocok buat saya. Beratnya memang masih ringan karena bahannya campuran aluminium. Saat beli sudah dilengkapi dengan senar dengan logo Wilson. Saya tidak terlalu ambil pusing dengan spesifikasinya yang lain, yang penting dapat Wilson asli berharga relatif murah.</p>
<p>Ternyata oh ternyata, raket ini hanya mampu mengantar saya sampai level pemula. Saat saya dan kawan saya sudah mulai bermain dengan pukulan yang kencang, raket sudah mulai terasa banyak berguncang saat menerima pukulan. Puncaknya, satu pukulan keras yang datang membuat raket ini sedikit bengkok. Pantas saja, bahannya yang berupa campuran logam dengan ketebalan sedang membuat raket ini rawan mengalami perubahan bentuk. Akhirnya, raket ini terpaksa dijual. Alhamdulillah, masih ada yang mau beli, <em>hehehe&#8230;</em></p>
<p>Wilson KW (gambar: tengah) ini saya beli di Borma. Konyol memang, karena harganya yang miring dan tempat penjualannya yang di toserba tidak membuat saya curiga dengan keasliannya. Berbekal logo dan tulisan Wilson yang mirip sekali dengan aslinya, mereka berhasil menjual Wilson KW pada saya. Sampai suatu hari, saya menyadari bahwa Wilson tidak mengeluarkan model raket semacam itu dan di bodi raket terdapat salah ketik yang fatal, yakni &#8220;lentgh&#8221; yang seharusnya &#8220;length&#8221;. Ouch. Maka setelah digunakan bermain beberapa kali, raket ini saya jual juga. Alhamdulillah ada juga yang beli, <em>hehehe&#8230;</em></p>
<p>Pengalaman membeli Wilson KW tidak membuat saya kapok mencari raket dengan harga miring. Bertemulah saya dengan Babolat Aeropro KW (gambar: kanan). Harganya yang miring dan nama Babolat yang katanya digunakan oleh pemain profesional dunia membuat saya kepincut. Awalnya saya sudah curiga. Sudah googling dan tidak menemukan tipe yang dijual tersebut. Tapi saya menenangkan diri sambil berbaik sangka bahwa bisa saja ada tipe-tipe tertentu yang dikeluarkan lokal untuk negara tertentu atau apa lah. Maklum, lagi senang-senangnya tenis, jadi gelap mata. Setelah membelinya, kecurigaan saya terbukti seratus persen. Seharusnya sudah terlihat dari tampilan cat di bodinya yang tidak rapi. Apa boleh buat, setelah digunakan beberapa minggu, Babolat KW ini saya jual juga. Eh, ada yang beli juga. Alhamdulillah, <em>hehehe&#8230;</em></p>
<p>Kesimpulan: Ada harga, ada rupa. Selain itu, raket-raket KW berisiko saat dilakukan penyenaran. Bahannya tidak menjamin bahwa raket tersebut dapat disenar sesuai tegangan yang disebutkan. Misalnya, di bodinya tertulis tegangan yang di rekomendasikan 55-60 lbs, padahal sebenarnya raket tersebut tidak kuat ditarik sekencang itu. Akibatnya, bodi raket retak atau patah. Selain itu, raket KW berisiko menyebabkan <em>tennis elbow</em> karena konstruksi bahannya mungkin tidak dipertimbangkan sebaik yang asli.</p>
<p>Pada kasus Wilson Fusion, memang raket berbahan aluminium itu lebih cocok untuk digunakan pada awal-awal belajar.</p>
<p>&#8212;<br />
Bersambung ke (<a href="http://agungprasetyo.org/2011/06/27/mencari-raket-dan-senar-tenis-yang-pas-2/">2</a>) dan (<a href="http://agungprasetyo.org/2011/06/27/mencari-raket-dan-senar-tenis-yang-pas-3/">3</a>)&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agungprasetyo.org/2011/06/27/mencari-raket-dan-senar-tenis-yang-pas-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

